Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

Perkara Raja Sapta Oktohari Diduga Pencatutan Nama

Perkara Raja Sapta Oktohari Diduga Pencatutan Nama Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Polda Metro Jaya masih mengusut kasus dugaan penipuan investasi sebesar Rp18 miliar yang menjerat Raja Sapta Oktohari (RSO) seperti yang dilaporkan oleh seseorang berinisial M. Polisi menduga nama RSO dicatut sehingga terjadilah dugaan kasus penipuan investasi di perusahaan yang RSO pimpin.

"Iya bisa aja dugaan nama itu dicatut. Dia punya kondisi awal bahwa perusahaan dia yang pertama itu ada yang mencoba nakal," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Baca juga: Polres Jakut Tangkap DPO Kasus Penipuan Penjualan Masker Senilai Rp847 Juta

Yusri tidak memaparkan lebih jauh prihal dugaan itu, sebab, hal itu dikatakannya sudah masuk ke dalam ranah penyidikan. Kasus itu sendiri juga dikatakannya sudah berproses di perdata.

"Kalau itu sudah masuk ke dalam ranah penyidikan ya. Laporan itu masih berproses di perdata itu belum selesai tetapi kemudian pelapor ini melaporkan Sapta baru kemarin," ungkap Yusri.

Dikonfirmasi terpisah, RSO memaparkan kasus itu secara detail. Dia menyebut PT yang kala itu dia kelola mengalami kendala disaat wabah virus corona merang Indonesia.

"PT MPIP di akhir tahun 2019 terjadi goncangan di pasar modal Indonesia yang menimbulkan dampak sistemik dilanjutkan lagi dengan pandemi Covid-19 yang masih terjadi hingga saat ini," kata RSO

Baca juga: Polisi Selidiki Laporan Dugaan Penipuan Terhadap Koperasi Indosurya

Akibat dampak buruk itu, manajemen PT membuat program restrukturisasi untuk jangka pendek dan jangka panjang di perusahaan itu. Dalam masa restrukturisasi perusahaan, RSO mengaku dikagetkan dengan adanya gugatan PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang) oleh PT lain.

"Dalam proses PKPU dilakukan verifikasi berapa dan kepada siapa kewajiban melakukan restrukrisasi penawaran skema pembayaran sebagaimana telah disosialisasikan sebelumnya dan juga melakukan investigasi atas tagihan-tagihan yang masuk," papar RSO.

Dalam proses restrukrisasi PKPU didapatkan data yang tidak melalui prosedur perusahaan yang sah. RSO menduga terjadi penandatanganan dokumen dengan mengatasnamakan dirinya dan dokumen itu bertujuan untuk menarik dana masyarakat.

"Terdapat dokumen yang ditandatangani oknum dengan mengatasnamakan saya. Aliran dana yang mengatasnamakan perusahaan namun diduga mengalir melalui kanal yang tidak tedaftar untuk aktifitas dan kepentingan pihak lain," pungkas RSO.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: