Polisi Ungkap Praktik Pengoplosan Madu Lebah Hutan yang Resahkah Warga Palembang

Headline
Kedua pelaku kasus dugaan pengoplosan madu hutan diamankan aparat Polrestabes Palembang, Sumatera Selatan. ANTARA/M Riezko Bima Elko P/22

Pantau – Aparat Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Palembang mengungkap praktik pengoplosan madu lebah hutan yang telah meresahkan masyarakat di kota ini sekitar delapan bulan terakhir.

Kepala Polrestabes Palembang, Kombes Pol Mokhamad Ngajib, di Palembang, Sabtu, (21/5/2022), mengatakan praktik pengoplosan madu tersebut terungkap setelah personelnya berhasil menangkap dua orang pelaku.

Kedua pelaku yang ditangkap kepolisian itu berinisial HF (33) dan Phr (45), warga Lorong Kemang, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang.

“Mereka ditangkap personel satreskrim saat tengah mengoplos madu di sebuah gudang di Lorong Kemang, Kelurahan 32 Ilir, Kamis (19/5/2022) siang,” kata Kombes Pol Mokhamad Ngajib.

Kepala Satreskrim Polrestabes Palembang, Kompol Tri Wahyudi, menjelaskan, penangkapan pelaku bermula dari pelaporan masyarakat yang tertipu sebab secara sepintas produk madu yang dibuat pelaku itu terbilang hampir mirip dengan produk olahan madu lebah hutan sialang asli.

Namun, polisi menemukan komposisi salah satu bahan baku madu itu dioplos tersangka menggunakan air Carboxymethyl Cellulose (CMC) yang umum digunakan untuk kebutuhan makanan hingga non makanan seperti pengental cat.

“Pelaku mencampur madu asli dengan air CMC, gula pasir, sitrun (zat asam), susu bubuk, dan air sebanyak 15 liter per 50 kilogram,” kata Kompol Tri Wahyudi.

Produk madu oplosan itu juga diedarkan pelaku hingga ke Provinsi Jambi.

“Berdasarkan keterangan pelaku bisa meraup keuntungan hingga senilai Rp5 juta dari madu oplosan itu,” katanya pula.

Dari tangan pelaku, polisi turut serta mengamankan barang bukti berupa delapan jerigen madu oplosan siap edar seberat 25 kilogram, satu ember plastik berisikan madu hitam manis, satu ember plastik berisikan madu hitam pahit, 5 kilogram gula pasir, satu biang susu, satu bungkus tepung tapioka, satu bungkus bahan baku pengental makanan.

Atas perbuatannya para pelaku diduga melanggar Pasal 196 juncto Pasal 98 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 62 ayat 1 juncto Pasal 6 ayat 1 huruf D dan atau huruf I UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Firdha Rizki Amalia