Pantau Flash
Disiplin Terapkan Prokes, Ketua Satgas COVID-19 Positif Korona
Total Positif COVID-19 di Indonesia Capai 965.283 dengan 13.632 Kasus Baru
BMKG Prediksi Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu Diguyur Hujan Disertai Petir
BPJS Kesehatan Pantau Pemanfaatan Aplikasi P-Care Vaksinasi COVID-19
Gempa Besar Magnitudo 7,1 Guncang Sulawesi Utara

Politikus PAN Minta Partainya Konsisten Jadi Oposisi Setelah Kalah Pilpres

Politikus PAN Minta Partainya Konsisten Jadi Oposisi Setelah Kalah Pilpres Ilustrasi PAN (Foto: Pantau.com/Amin H Al Bakki)

Pantau.com - Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Ali Thaher Parasong menyindir partainya agar memiliki sikap konsisten berada di luar pemerintahan setelah kalah pada pemilu presiden 2019. 

"Bagi saya, kalau kalah dalam pemilu presiden, ya kalah. Selanjutnya berada di luar pemerintahan," kata Ali Thaher Parasong pada diskusi "Empat Pilar: Rekomendasi Amandemen Konstitusi Terbatas untuk Haluan Negara" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Baca juga:  Zulhas Tegaskan PAN Tak Pernah Minta Jatah Kursi Menteri ke Jokowi

Menurut Ali Thaher, penegakan demokrasi di Indonesia masih abal-abal karena partai politik setelah pemilu masih berpindah-pindah. "Kalau semua partai ingin bergabung ke pemerintah, maka tidak ada lagi oposisi. Tidak ada lagi partai oposisi yang akan mengontrol pemerintah," kata Ali.

Ketua Komisi VIII DPR RI ini juga mengingatkan PAN untuk bersikap konsisten berada di luar pemerintah dan menjaga aspirasi konstituen yang telah memilihnya. "Kalau menurut saya, enggak bergabung dengan pemerintah. Cengeng amat. Kalau bergabung karena menginginkan kursi menteri kabinet supaya ada akses kekuasaan, itu terlalu kecil bagi saya. Ini dapat membuat pamor partai menjadi lebih pudar," katanya.

Baca juga: Ketum PAN: Usai Putusan MK, Prabowo Nyatakan Koalisi Berakhir

Menurut Ali Thaher, sebagai anggota DPR RI, dirinya memiliki pandangan ideologis bahwa perlu ada partai oposisi sehingga ada yang mengontrol pemerintah. "Bayangkan, kalau pemerintah berjalan tanpa koreksi akan melahirkan otoritarianisme terhadap sipil. Saya mohon maaf dan saya berterus terang, kalau saya tersenyum dalam kegelisahan," katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: