Pantau Flash
Kematian Babi Akibat Virus ASF di NTT Mencapai 22.000 Ekor
Rakyat Rusia Setuju Presiden Vladimir Putin Berkuasa hingga 2036
Bansos Rp300 Ribu Hanya Dibagikan Sebulan Sekali Mulai Juli untuk Warga DKI
Kasus Positif COVID-19 di Indonesia Tembus 60.000 per 3 Juli
Presiden Jokowi Bersyukur Status Indonesia Naik Menengah ke Atas

Polri: Pasutri Bomber Gereja di Jolo Berangkat ke Filipina Desember 2018

Polri: Pasutri Bomber Gereja di Jolo Berangkat ke Filipina Desember 2018 Gedung Bareskrim (Foto: Pantau.com/Anugerah Ali)

Pantau.com - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan bahwa mendiang pasangan suami istri terduga pelaku pengeboman gereja di Jolo pada Januari 2019 lalu, diketahui berangkat ke Filipina pada Desember 2018.

"Mendiang Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh pada bulan Desember 2018, berangkat melalui jalur gelap ke sana (Filipina)," kata Brigjen Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Hal itu diketahui dari informasi yang diperoleh dari dua terduga teroris Novendri dan Yoga yang ditangkap Densus 88, beberapa waktu lalu.  Novendri adalah anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Sumatera Barat. Sementara, Yoga adalah anggota JAD Kalimantan Timur.

Baca juga: 2 Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Filipina Dipastikan WNI

Diketahui bahwa Rullie dan Ulfah mengikuti doktrinasi pemahaman nilai-nilai radikalisme dan menyatakan sanggup menjadi bomber.

"Ada kesanggupan yang bersangkutan menjadi pengantin," ungkapnya.

Pasutri tersebut direkrut oleh Andi Baso, buronan kasus pengeboman Gereja Oikumene Samarinda. Andi kemudian menginformasikan ke pengendali jaringan, Saefulah, mengenai kesanggupan Rullie dan Ulfah untuk menjadi bomber.

"Dilakukan pemetaan jaringan di Filipina, baru mereka dipersiapkan jadi suicide bomber," ujarnya.

Baca juga: Pasangan Asal Indonesia Pelaku Bom Bunuh Diri Gereja Katolik di Filipina

Densus 88 Antiteror saat ini bekerja sama dengan Kepolisian Filipina untuk mendapatkan data DNA potongan tubuh Rullie dan Ulfah yang akan dicocokkan dengan DNA pembanding dari keluarga pelaku di Sulawesi Selatan.

"Bila setelah dicocokkan, identik, baru nanti akan disampaikan secara resmi bahwa keduanya suspect suicide bomber," katanya.

Sebelumnya bom meledak di sebuah gereja di Pulau Jolo, Sulu, Filipina, pada Januari 2019, mengakibatkan 22 orang tewas dan sekitar seratusan orang terluka.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: