Pantau Flash
Cair H-10! Sri Mulyani Siapkan Rp30,6 Triliun untuk THR PNS
Muhammadiyah Minta Warga Tahan Diri Tak Mudik Lebaran
Eks Ketua Pengadaan Bakamla Didakwa Rugikan Negara Rp63,829 Miliar
KRI Nanggala-402 Hilang Kontak, Menhan Prabowo: Segera Modernisasi Alutsista 3 Matra
Update COVID-19 22 April: Kasus Positif Naik 6.243 dengan Total 1.626.812

Resmi Diambil Alih Negara, Berikut 5 Fakta Menarik Tentang TMII

Headline
Resmi Diambil Alih Negara, Berikut 5 Fakta Menarik Tentang TMII Ilustrasi: Pengunjung berswafoto di depan Teater Keong Emas, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Jumat (21/8/2020). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.

Pantau.com - Pemerintah secara resmi mengambil alih pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang selama ini dikelola Yayasan Harapan Kita, yang dibentuk oleh Ibu Tien Soeharto.  Pengambilalihan ini didasarkan oleh Perpres Nomor 19 Tahun 2021 Tentang TMII yang sudah diteken oleh Presiden Jokowi.

Dikenal sebagai salah satu tempat wisata favorit di Ibu Kota, TMII menyuguhkan tempat wisata berbasis edukasi dan budaya. Tempat wisata ini satu ini juga punya sederet fakta yang menarik diketahui.

Berikut 5 Fakta Menarik tentang TMII:

1. Dibangun Tahun 1972

TMII termasuk sebagai salah satu tempat wisata yang berusia hampir setengah abad. Dibangun tahun 1972, TMII sekarang sudah menginjak usia yang ke-49 tahun. TMII diresmikan pada tanggal 20 April 1975. 

Mengutip laman resminya, TMII merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur.

Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat 33 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional, serta menampilkan aneka busana, tarian dan tradisi daerah.

2. Terinspirasi dari Disneyland dan Taman Hiburan di Thailand

Pembangunan TMII tak lepas dari gagasan Ibu Negara Presiden Kedua Indonesia, Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto. Gagasan ini tercetus pada suatu pertemuan di Jalan Cendana no. 8 Jakarta pada tanggal 13 Maret 1970. 

Mengutip Historia, Ibu Tien memperoleh gagasan itu setelah berkunjung ke Thai-in-Miniature di Thailand dan Disneyland di Amerika Serikat. Dua tempat ini berfungsi memamerkan dan mempromosikan kebudayaan, segi sosial, pendidikan, ekonomi, dan pariwisata dua negara tersebut.

“Setelah mengunjungi kedua tempat tersebut, Tien Soeharto menginginkan agar di Indonesia terdapat suatu objek wisata yang mampu menggambarkan kebesaran dan keindahan Tanah Air Indonesia dalam bentuk mini di atas sebidang tanah yang cukup luas,” tulis Suradi H.P. dkk., dalam Sejarah Taman Mini Indonesia Indah.

Melalui miniatur ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta Tanah Air pada seluruh bangsa Indonesia. Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur Indonesia "Indonesia Indah", yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita.

3. Punya Maskot yang Diambil dari Tokoh Pewayangan

Buat kamu yang pernah atau sering berkunjung ke TMII, tentu sudah tidak asing lagi dengan NITRA atau Anjani Putra yang jadi maskot TMII. Maskot ini sendiri diambil dari tokoh wayang Hanoman atau manusia setengah kera yang ada dalam kisah Ramayana.

Maskot "Taman Mini Indonesia Indah" ini diresmikan penggunaannya oleh Ibu Tien Soeharto, bertepatan dengan dwi windu usia TMII, pada tahun 1991.

4. Pembangunan TMII Sempat Menuai Protes

Pembangunan TMII dulu sempat menuai protes dari beberapa pihak. Protes tersebut tak hanya datang dari mahasiswa, tetapi juga kalangan lain seperti kaum cendekiawan, teknokrat, serta pengusaha.

Penolakan tersebut datang karena meski berlabel 'mini', pembangunan TMII ternyata memerlukan biaya yang besar, yaitu sekitar Rp 10,5 miliar bahkan lebih. Banyak pihak yang menentang karena saat itu sebagian besar masyarakat Indonesia sedang dilanda masalah kemiskinan. Walau telah menemui pendemo, akhirnya pembangunan TMII tetap diteruskan dan dilanjutkan.

5. Taman Rekreasi yang Merepresentasikan Keberagaman Suku di Indonesia

Sesuai namanya, TMII dibangun untuk merepresentasikan keberagaman suku yang ada di Indonesia. Di Indonesia, hampir setiap suku bangsa memiliki bentuk dan corak bangunan yang berbeda, bahkan tidak jarang satu suku bangsa memiliki lebih dari satu jenis bangunan tradisional. 

Bangunan atau arsitektur tradisional yang mereka buat selalu dilatarbelakangi oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki. Di TMII, gambaran tersebut diwujudkan melalui Anjungan Daerah, yang mewakili suku-suku bangsa yang berada di 33 Provinsi Indonesia. 

Anjungan provinsi ini dibangun di sekitar danau dengan miniatur Kepulauan Indonesia, secara tematik dibagi atas enam zona, yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tiap anjungan menampilkan bangunan khas setempat.

Melalui miniatur ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta Tanah Air pada seluruh bangsa Indonesia.


Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Denis Syaiful Arif

Berita Terkait: