Pantau Flash
Anies Baswedan Perpanjang Tanggap Darurat Jakarta hingga 19 April
Positif COVID-19 Meningkat, 1.155 Kasus, 102 Meninggal, dan 59 Sembuh
Cegah Penyebaran Virus Korona, Menag Imbau Masyarakat Tidak Mudik
Seorang Dokter Positif Tertular Virus Korona dari Klaster Bima Arya
Presiden Prancis Ingatkan Italia Waspada Bantuan China dan Rusia

Setahun Jalan Kaki dari Aceh ke Papua, Kaki Watimin Bengkak di Bogor

Headline
Setahun Jalan Kaki dari Aceh ke Papua, Kaki Watimin Bengkak di Bogor Watimin saat melintas di Pondok Kelapa Jakarta Timur (Foto: Antara/Andi Firdaus)

Pantau.com - Pejalan kaki dari Sabang sampai Merauke, Watimin (36), mengalami pembengkakan pada bagian betis kiri yang dialami sejak Selasa, 3 September 2019.

"Agak nyeri sih. Kejadiannya waktu saya istirahat di Bogor," katanya di Jalan Irigasi Kalimalang, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat sore (6/9/2019).

Pria yang sudah setahun berjalan kaki dari Masjid Agung Aceh itu mengaku tidak mengetahui penyebab pembengkakan pada betis. Kondisi itu ia sadari saat kembali menempuh perjalanan mengarah ke Bekasi, Jawa Barat. 

"Tiba-tiba bengkak aja," katanya.

Baca juga: Kemensos Nonaktifkan PBI BPJS, Nyawa Pasien Miskin Gagal Ginjal Terancam

Beruntung pria warga Cilacap, Jawa Tengah, itu berjumpa dengan relawan dari komunitas Indonesia Escorting Ambulance (IEA) yang memberikan perawatan terhadap kaki Watimin.

Salah satu relawan IEA yang turut mendampingi Watimin berjalan kaki adalah Reza.

"Pembengkakan kaki Watimin kelihatannya disebabkan oleh gigitan serangga. Tapi jenisnya belum tahu apa," kata Reza.

Penanganan medis dilakukan pihaknya dengan memberikan semprotan penghilang rasa nyeri serta membalut betis kaki kiri Watimin menggunakan perban putih. Menurut dia, sepanjang perjalanan melintasi Bogor hingga Jakarta, pejalan kaki yang berprofesi sebagai petani itu berulang kali mengeluhkan rasa sakit di betis.

"Setiap dia merasa kesakitan, saya selalu semprotkan cairan penghilang nyeri ini," katanya.

Baca juga: Miris, Misdah Jadi Tersangka Penggelapan Limbah karena Tak Bisa Baca Tulis

Watimin memilih berjalan kaki dari Aceh menuju Papua sebagai visualisasi aksi mengampanyekan semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan berbekal izin dari sejumlah instansi terkait berikut surat keterangan sehat dari tim medis, Watimin berjalan kaki sejak setahun lalu dengan membawa spanduk bertuliskan "Pancasila, NKRI Harga Mati" yang terikat di tas ransel berwarna hijau.

Watimin menempuh perjalanan menggunakan sendal jepit karet warna hitam sambil memanggul bendera Merah Putih yang terikat di bagian ujung bambu.

"Saya mengarah ke Surabaya," katanya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: