Pantau Flash
Bank Indonesia Yakin Ekonomi Membaik di Semester II-2020
Lion Air Hentikan Sementara Penerbangan Umrah ke Arab Saudi
3 Induk Cabor Tanda Tangan MoU Dana Pelatnas 2020
Sejumlah Pertandingan Liga Champions Asia Ditunda Akibat Virus Korona
Menlu Retno Kirim 23 Orang untuk Proses Evakuasi WNI dari Diamond Princess

Terjerat Pinjaman Online, 25 Warga Surabaya Mengadu ke Polda Jatim

Headline
Terjerat Pinjaman Online, 25 Warga Surabaya Mengadu ke Polda Jatim Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Puluhan warga Surabaya melapor ke Polda Jawa Timur karena terjerat utang melalui aplikasi pinjaman online. Mereka tidak bisa mengembalikan pinjaman karena tingginya bunga dan ketidaksesuaian saat pencairan.

"Saya sudah mendampingi proses hukum 'pro bono' terhadap sebanyak 25 orang yang terjerat utang melalui aplikasi daring. Semua perkaranya kami laporkan ke Polda Jatim," ujar advokat Tony Suryo kepada wartawan di sela mendampingi sejumlah kliennya saat melapor ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim di Jalan Ahmad Yani Surabaya, Minggu (26/8/2019).

Baca juga: Tips Aman untuk Millennials dalam Melakukan Pinjaman Online

Dia menjelaskan aplikasi daring itu semula memberi kemudahan pemberian utang karena salah satunya tanpa disertai syarat jaminan atau agunan yang gencar dipromosikan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lainnya.

"Tapi bunganya cukup besar dan jatuh temponya pendek, seperti jika berutang sebesar Rp1,5 juta, cairnya cuma sebesar Rp800 ribu dan harus dilunasi selama seminggu senilai total Rp1,8 juta," katanya.

Proses pemberian pinjamannya ini, kata dia, sebenarnya tidak ada masalah secara hukum, namun masalahnya ketika peminjam tidak bisa membayar sesuai jatuh tempo, perusahaan dari aplikasi mengerahkan penagih utang atau 'Debt Collector' dengan cara meneror dengan kata-kata tidak senonoh melalui pesan pendek di telepon seluler maupun media sosial," katanya.

Penagih utang ini, lanjut dia, tidak hanya meneror ke nomor telepon seluler peminjam yang terlilit utang, melainkan juga ditujukan kepada nomor telepon seluler para kerabatnya.

Tony meyakini aplikasi ini bisa melihat data-data yang tersimpan di dalam telepon seluler para debitur atau nasabahnya.

"Mereka bisa melihat nomor telepon mana saja milik para kerabat debitur bermasalah yang sering dihubungi dan kemudian menghubunginya satu persatu dengan menebar kata-kata tidak senonoh yang menjelekkan," katanya.

Tony menandaskan aplikasi pinjaman daring ini ada banyak yang diduga saling bersekongkol.

"Kami mendata ada sekitar 80-an aplikasi pinjaman daring," ujarnya.

Ia mengatakan, karena bunganya mencekik dengan jatuh tempo yang sangat pendek, selain juga kalau tidak mampu membayar harus menghadapi teror dari para penagih, pada akhirnya kebanyakan debitur berutang di lebih dari dua aplikator pinjol dengan tujuan untuk 'gali lubang tutup lubang'.

Baca juga: Duh! Terjerat Utang Rp33 Juta Lebih, Orang Ini Minta Netizen Bantu Lunasi

Melia, salah seorang debitur pinjaman online yang turut melapor ke Polda Jatim, mengaku telah berutang kepada sebanyak 30 aplikasi pinjaman daring.

"Awalnya cuma berutang ke satu aplikator senilai Rp1,5 juta. Karena terus ditagih, saya mendaftar ke aplikator lain untuk menutup utang yang terdahulu. Begitu seterusnya sampai sekarang saya punya utang di 37 aplikator pinjol. Total utang saya sekarang mencapai Rp30-an juta," katanya.

Teror yang disebar oleh penagih utang melalui pesan pendek kepada telepon seluler teman-temannya membuat Melia kini harus menanggung malu.

"Teror dari penagih utang sangat mengintimidasi. Saya sampai keluar dari tempat kerja akibat tidak kuat menanggung malu. Karena teman-teman sekantor ikut diintimidasi oleh para penagih. Semua orang sekarang tahu kalau saya punya banyak utang," ucap mantan karyawati di sebuah perusahaan swasta di Kota Surabaya ini.


Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Kontributor - TIH
Category
Nasional

Berita Terkait: