Tersangka Teroris RY Pernah Jalin Hubungan dengan Dulmatin dan Free Syrian Army

Headline
Logo Free Syrian Army. (Foto: Wikipedia)

Pantau – Tersangka teroris RY alias D Tadi pagi pukul 08.13 WIB ditangkap densus 88 antiteror Polri di Magetan, Jawa Timur, Selasa (2/8/2022). RY pernah menjalin hubungan dengan Free Syrian Army dan pentolan teroris Dulmatin.

Karopemmas Divhumas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, pelaku diduga terlibat tindak pidana terorisme di Magetan.

“Dia tahun 2013 mengikuti seleksi anggota HI (hubungan Internsional) JI (Jamaah Islamiyah) ke Suriyah melalui Dubai untuk membuka jalur hubungan dengan Free Syrian Army (FSA) dan bergabung di pelatihan militer,” ujarnya saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (2/8/2022).

Ramadhan merunut rekam jejak RY saat tahun 2013 sudah berkecimpung di ranah HI (Hubungan Internasional) JI (Jamaah Islamiyah).

“Dia anggota HI JI, dan di tahun 2015 melakukan perjalanan kembali ke Suriyah melalui Istanbul untuk membangun hubungan dengan Jabah Nusroh pada saat di Suriyah,” katanya.

RY Pernah Bertemu Dulmatin 

RY ternyata pernah menjalin komunikasi dengan teroris kawakan Dulmatin di Magetan, lokasi yang sama. Dulmatin alias Joko Pitono alias Amar Usman alias lainnya adalah Joko Supriyanto dan Noval.

Dulmatin bisa dibilang pentolan di dunia teroris Indonesia. Amerika Serikat bahkan menghargai kepalanya US$ 10 juta (sekitar Rp 92,7 miliar). Itu terbilang besar bila dibanding “harga” untuk Usamah bin Ladin, yang mencapai US$ 25 juta.

“Yang bersangkutan ditahan oleh kelompok militer ISIS, dan yang bersangkutan mempunyai koneksi langsung ke YAMAN dalam membuka jalur hubungan JI dengan Al kaidah untuk melakukan pelatihan militer di Suriyah. Kemudian juga yang bersangkutan pernah komunikasi dengan Dulmatin di Magetan, kita lakukan penyelidikan terlebih dahulu,” ujarnya.

Harga kepala Dulmatin juga sepuluh kali lipat Umar Patek, yang dihargai US$ 1 juta (Rp 9,27 miliar). Dulmatin disebut-sebut jago membuat pemicu bom. Konon, dialah yang merancang sistem elektronik detonasi Bom Bali I.

Tim Pantau
Editor
Desi Wahyuni
Penulis
Desi Wahyuni