Pantau Flash
Coppa Italia Jadi Pembuka Kompetisi Sepakbola di Italia
Kemenperin Berkomitmen Kawal Investasi di Indonesia
Nissan Pastikan Tutup Pabrik di Indonesia
Pemerintah Segera Terbitkan Protokol Latihan dan Kompetisi Olahraga
Dinkes Jakpus Pendatang Tanpa SIKM Harus Tes Swab Biaya Sendiri

Tuduh Polisi Peras Rp1 Miliar pada Pelapor, IPW Didesak Minta Maaf

Tuduh Polisi Peras Rp1 Miliar pada Pelapor, IPW Didesak Minta Maaf Neta S Pane (Foto: Antara)

Pantau.com - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendesak Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane meminta maaf secara terbuka terkait pemberitaan tuduhan Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Selatan AKBP Andi Sinjaya Ghalib memeras Rp1 miliar kepada pelapor.

"Kalau yang Neta bicarakan itu tidak benar maka perlu minta maaf di hadapan publik," kata Andre H Poeloengan saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (16/1/2020).

Andre mengatakan, Neta harus meluruskan dan menyelesaikan persoalan berita itu dengan pelapor bernama Budianto Tahapary, serta mengklarifikasi kepada Bidang Propam Polda Metro Jaya dan penyidik Polrestro Jakarta Selatan. "Kalau benar yang disampaikan Neta berikan alat buktinya ke Propam Polda Metro Jaya," ungkapnya.

Baca juga: IPW Apresiasi Penyiram Novel yang Disebut Menyerahkan Diri

Andre juga mendorong Divisi Propam Mabes Polri dan Itwasum Polri mengaudit mutasi terhadap AKBP Andi Sinjaya dari Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Selatan menjadi Koordinator Tenaga Pendidik SPN Polda Metro Jaya.

"Sangat patut dan perlu diperiksa oleh Divpropam Polri dan juga dilakukan audit investigasi oleh Itwasum Polri, apakah mutasi yang dilakukan itu sudah patut dan sesuai Perkap atau belum?" tutur Andre menambahkan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Hasibuan menilai penyebaran berita oknum polisi memeras pelapor kasus Rp1 miliar merupakan hal yang menyesatkan dan termasuk kategori fitnah.

"Kita minta tidak ada lagi yang melakukan penyebaran informasi dan fitnah yang menyesatkan terhadap AKBP Andi Sinjaya Ghalib," ujar mantan komisioner Kompolnas itu.

Edi menyatakan hasil pemeriksaan yang dilakukan Bidang Propam Polda Metro Jaya terhadap pihak terkait yang menyatakan AKBP Andi Sinjaya terbukti tidak memeras pelapor maka dianggap tidak ada penyalahgunaan wewenang.

Pengajar Universitas Bhayangkara Polri itu menambahkan pemberitaan berisi tuduhan AKBP Andi Sinjaya memeras pelapor itu sebagai produk berita tidak terklarifikasi yang menyebabkan "bola liar" dan menurunkan harkat, serta martabat anggota kepolisian itu.

Baca juga: IPW Heran Komisi III DPR Tak Dukung Pengungkapan Kasus Supercar Bodong

Sebelumnya, Neta menyatakan AKBP Andi Sinjaya diduga terlibat pemerasan Rp1 miliar terhadap salah satu pelapor bernama Budianto untuk merampungkan kasusnya di Polrestro Jakarta Selatan. Dari hasil pemeriksaan intensif, Bidang Propam Polda Metro Jaya menegaskan AKBP Andi Sinjaya Ghalib terbukti tidak terlibat pemerasan terhadap Budianto.

Bahkan, Budianto menjelaskan kronologis kejadian adanya makelar kasus dari oknum pengacara berinisial Al yang meminta uang Rp1 miliar mengatasnamakan AKBP Andi Sinjaya untuk menyelesaikan laporan kasusnya di Polrestro Jakarta Selatan.
Budianto meminta maaf atas ramainya pemberitaan mengenai tuduhan AKBP Andi Sinjaya memeras Rp 1 miliar berdasarkan keterangan Neta S Pane yang tidak terklarifikasi.

Budianto juga membantah AKBP Andi Sinjaya yang meminta uang Rp1 miliar untuk menyelesaikan laporan kasus terkait menempati lahan tanah tanpa izin itu. "Bukan kasat tapi mengatasnamakan kasat," ucap Budianto.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta

Berita Terkait: