Pantau Flash
Cuaca Tak Menentu, Pemkab Bogor Larang Korban Banjir Bandang Puncak Pulang
Antam Klaim Tak Bersalah Soal Transaksi Emas di Surabaya dan Akan Banding
Eksportir Sambut Positif Dukungan Kuat Pemerintah untuk Sarang Burung Walet
Persib Akan Perpanjang Kontrak Pemain yang Habis pada Februari
Kasus Positif Virus Korona di RI Bertambah 10.365, Total Jadi 927.380 Orang

Wiranto Sebut Akses Intenet di Papua dan Papua Barat Sudah Normal

Wiranto Sebut Akses Intenet di Papua dan Papua Barat Sudah Normal Menko Polhukam Wiranto (Foto: Antara/Aprilio Akbar)

Pantau.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyatakan akses internet di Papua dan Papua Barat sudah normal kembali setelah pembatasan dicabut.

"Saya sudah berjanji tanggal 5 September 2019 akan kita pertimbangkan. Kalau kondusif maka pembatasannya dicabut," kata Wiranto, di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Menurut Wiranto saat konferensi pers terkait situasi di Papua dan Papua Barat, berdasarkan laporan Kapolri dan Panglima TNI, BIN di lapangan, kondisi di Papua dan Papua Barat sudah cukup kondusif sehingga pembatasan internet dicabut.

"Jadi, internet sudah dapat dinormalkan kembali," katanya lagi.

Baca juga: Menkominfo: Isu Hoaks Soal Papua Berasal dari 20 Negara Lebih

Tetapi, ia mengatakan bahwa pencabutan pembatasan internet itu berlaku dengan catatan situasi terus berlangsung kondusif.

"Apabila keadaan memburuk, mudah-mudahan tidak. Maka, pembatasan internet akan dilakukan kembali," katanya pula.

Sebelumnya, pada Selasa lalu, Wiranto berjanji bahwa jaringan internet di Papua akan normal kembali pada 5 September 2019, apabila situasi yang telah kondusif tetap terjaga dua hari ke depan.

Baca juga: Ditanya Veronica Koman Tengah Berada di Singapura? Ini Jawaban Polri

Pembatasan akses internet hanya dilakukan sebagian dan sementara. Namun, masyarakat di Papua dan Papua Barat masih bisa mengirimkan pesan singkat SMS dan WhatsApp.

Pembatasan itu, kata dia, merupakan reaksi dari satu kondisi yang membahayakan keamanan nasional, karena banyaknya pihak yang ikut menggunakan kesempatan untuk mengacaukan keadaan dengan internet khususnya media sosial.

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: