Pantau Flash
Lagi, Polisi Grebek Kantor Pinjol Ilegal di Jakut
Polisi Tangkap Ketua Umum GMBI
Edy Mulyadi Tolak Panggilan Hari ini, Bareskrim Siapkan Panggilan Kedua
Waduh, Pengadilan Jakarta Pusat dan Tipikor Tutup Sampai 31 Januari
Edy Mulyadi Tak Penuhi Panggilan Bareskrim, Soal 'Jin Buang Anak'

Wiranto Sebut WNA Bukan Dilarang ke Papua, tapi Dibatasi

Wiranto Sebut WNA Bukan Dilarang ke Papua, tapi Dibatasi Menko Polhukam Wiranto (Foto: Antara/Aprilio Akbar)

Pantau.com - Menteri Koordinator Pokitik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto menegaskan Pemerintah tak melarang warga negara asing (WNA) datang ke Papua, melainkan hanya dibatasi.

"(Pembatasan) Semua itu kan ada kepentingannya. Bukan pelarangan ya, pembatasan," kata Wiranto, saat konferensi pers kondisi Papua dan Papua Barat, di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Baca juga: HNW: Tak Mungkin Benny Wenda Bergerak Sendirian

Menurut dia, langkah pembatasan WNA itu untuk mencegah masuknya provokator yang ingin memperkeruh suasana di Papua dan Papua Barat yang kian kondusif dan demi keselamatan mereka sendiri.

Dengan pembatasan itu, kata dia, warga asing yang ingin ke Papua harus melalui persyaratan-persyaratan tertentu dan melewati skrining.

"Saya tanya apakah Anda bisa membedakan ini wisatawan atau provokator? Enggak bisa kan. Nah, makanya supaya nanti tidak ada yang ikut ke sana, nimbrung ke sana, maka ada pembatasan," katanya.

Jika situasi di Papua dan Papua Barat sudah benar-benar kondusif seperti sediakala, kata dia, warga asing justru didorong untuk berwisata ke Papua.

"Nanti kalau sudah kondusif, sudah damai, kita suruh masuk. Ayo ke Raja Ampat sana, devisa masuk. Dulu juga enggak ada pembatasan. Ya, kita minta maaf, tapi itu harus kita lakukan," katanya.

Baca juga: Kemenkominfo Buka Akses Internet di Papua, HNW: Warga Jangan Sebar Hoax

Mengenai deportasi terhadap empat WNA asal Australia, ia mengatakan belum ada bukti cukup keterlibatan mereka dengan kerusuhan di Papua sehingga hanya mereka dideportasi.

"Kalau ada bukti yang cukup, kita pasti hukum dengan hukuman kita, UU kita, karena mereka kemarin ikut nimbrung ke situ. Ditanya, kok foto-foto? Saya kira pawai budaya. Ini bukan pawai budaya, ini demonstrasi, anarkis," katanya.

Namun, kata Wiranto, jika mereka membawa dokumen-dokumen, seperti bendera bintang kejora, dan sebagainya pasti akan diproses dengan perundang-undangan yang berlaku.

Sebelumnya, Kantor Imigrasi Sorong telah mendeportasi empat warga negara Australia karena diduga ikut dalam aksi Papua Merdeka di Sorong, Papua Barat.

Keempat WN Australia tersebut adalah Baxter Tom (37), Davidson Cheryl Melinda (36), Hellyer Danielle Joy (31), dan Cobbold Ruth Irene (25).  

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Kontributor - TIH

Berita Terkait: