Pantau Flash
Menhub: Jangan Pulang 1 November, karena Penuh Sekali
Mendag: Neraca Perdagangan RI Surplus dan Tertinggi
Jawa Tengah Bagian Selatan Masih Berpotensi Diguyur Hujan Ekstrem
Formula 1 Bakal Mentas di Sirkuit Kota Jeddah Arab Saudi untuk Pertama Kali
Perancis Tingkat Keamanan ke Level Tertinggi Pasca Penusukan di Gereja

3 Laga Indonesia vs Thailand yang Sulit Dilupakan, Sepakbola Gajah Jadi Aib

Headline
3 Laga Indonesia vs Thailand yang Sulit Dilupakan, Sepakbola Gajah Jadi Aib Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Pantau.com - Timnas Indonesia akan berhadapan dengan Thailand di pertandingan kedua babak kualifikasi Piala Dunia 2022, yang akan berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa, 10 September 2019. Duel dua seteru ini kerap ditunggu publik sepak bola Tanah Air. Meski Indonesia selalu kesulitan kala berduel dengan tim Gajah Putih, namun pertemuan keduanya kerap dibumbui aroma adu gengsi.

Pasalnya, Thailand dalam beberapa dekade terakhir bisa disebut sebagai raja sepak bola Asia Tenggara. Walau kita tak bisa memungkiri kebangkitan Vietnam, Filipina, atau Malaysia yang juga beberapa kali membuat kejutan.

Kembali ke duel Indonesia vs Thailand, jika dirunut ke belakang, pertemuan dua tim ini seringkali terjadi di pentas final Piala Tiger atau Piala AFF, dan SEA Games. 

Menurut data yang dilansir dari RSSSF, Indonesia sudah berhadapan dengan Thailand sebanyak 69 kali. Hasilnya, Thailand menang 36 kali, Indonesia menang 21 kali, dan 12 laga lainnya selesai imbang.

Dari beberapa laga itu, Pantau.com akan sajikan tiga pertandingan Indonesia vs Thailand yang sulit terlupakan. Apa saja?

Baca juga: Jelang Indonesia vs Thailand: Garuda Dibayangi Rekor Buruk

1. Final SEA Games 1997

Kurniawan Dwi Yulianto (Foto: Dok AFF)

Pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara saat itu digelar di Indonesia. Tuan rumah yang diarsiteki pelatih asal Belanda, Henk Wullems berhasil melaju ke partai puncak dan berhadapan dengan Thailand, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Kala itu, Indonesia masih mengandalkan Kurniawan Dwi Yulianto, sementara Thailand bertumpu dengan Kiatisuk Senamuang di lini depan. 

Berstatus sebagai tuan rumah, Timnas Garuda tentu berambisi menyabet medali emas. Namun nyatanya, tim tamu berhasil unggul terlebih dahulu lewat gol Chaichan Kiewsen. Gol tersebut sempat membuat seisi stadion terdiam.

Indonesia pun tersentak. Pada menit ke-48, Kurniawan sukses menyamakan skor menjadi 1-1. Berawal dari umpan Widodo C Putro, Kurniawan mampu menjebol gawang Thailand lewat sepakan first-time. Gol itu memaksa pertandingan harus dilanjutkan hingga babak perpanjangan waktu, dan kemudian ke adu penalti. Pada akhirnya, Indonesia gagal meraih medali emas setelah tunduk di babak adu penalti.

Meski begitu, anak-anak Garuda patut mendapat apresiasi karena bisa mengimbangi Thailand yang tengah on fire.


2. Sepak Bola Gajah 1998

Laga Indonesia vs Thailand (Foto: Istimewa)

Setahun berselang, Indonesia dan Thailand kembali bertemu, namun kali ini di pentas Piala Tiger 1998 yang digelar di Vietnam. Bergabung di grup A, kedua tim tampil perkasa di dua laga awal. Indonesia menaklukkan Filipina 3-0 dan Myanmar 6-2, sedangkan Thailand imbang 1-1 kontra Myanmar dan menang 3-1 lawan Filipina. 

Kedua tim pun bertemu di laga terakhir grup, untuk menentukan status juara grup dan runner up. 

Sementara di Grup B, tuan rumah Vietnam di luar dugaan tersungkur dan harus menempati posisi kedua grup. Padahal saat itu, Vietnam jadi unggulan kuat, di samping berstatus tuan rumah, tim negeri Paman Ho juga baru saja berlatih di Eropa. Permainan tim itu pun sangat baik selama penyisihan. 

Dengan hasil itu, otomatis juara grup A akan berhadapan dengan Vietnam yang jadi runner up grup. 

Tak ingin berhadapan dengan tuan rumah di babak semifinal membuat Indonesia dan Thailand memainkan pertandingan memalukan dan tercatat dalam sejarah dengan istilah 'sepak bola gajah'.

Kedua tim sama-sama terlihat tak ingin menang untuk menghindari Vietnam. Memainkan tempo lambat, pertandingan berjalan sangat monoton. Bola banyak bergulir di tengah lapangan. Pemain lawan pun tampak tak berusaha merebutnya. 

Timnas Indonesia yang diasuh Rusdy Bahalwan sempat menjebol gawang Thailand lewat aksi Miro Baldo Bento pada menit ke-53. Thailand kemudian membalas, sebelum akhirnya Indonesia kembali memimpin 2-1 lewat gol Aji Santoso menit ke-84. Tak butuh waktu lama, Thailand menyamakan skor dua menit kemudian.

Baca juga: 5 Pesepakbola Indonesia yang Pernah Merumput di Liga Malaysia

Ketika waktu normal akan segera berakhir, Indonesia akan jadi juara grup jika skor 2-2 tak berubah. Namun petaka datang. Mursyid Effendi dengan sengaja mencetak gol bunuh diri pada menit ke-90, dan membuat Indonesia kalah 2-3. Gol itu mengagetkan penonton di Stadion Thong Nat, Ho Chi Minh, Vietnam. Bahkan, kecaman pun datang dari dalam dan luar negeri. 

Aksi itu pun berbuntut sanksi 40 ribu dollar dari FIFA dan hukuman tak boleh bermain seumur hidup kepada Mursyid.

Meski telah memainkan pertandingan memalukan, nyatanya Indonesia juga gagal jadi juara. Di semifinal mereka takluk dari Singapura, yang akhirnya keluar sebagai juara.

3. Final Piala AFF 2016

Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Tiga tahun lalu, Indonesia berpeluang merebut gelar Piala AFF untuk pertama kalinya. Timnas Indonesia yang melangkah ke final usai menyingkirkan Vietnam. Lawan yang akan dihadapi adalah tim negeri Gajah Putih, Thailand. Tim Merah Putih sempat mendapat asa saat meraih kemenangan di leg pertama yang berlangsung di Stadion Pakansari, Bogor. Kala itu timnas menang 2-1, lewat gol dramatis Rizky Pora dan Hansamu Yama. 

Asa pun membumbung tinggi, publik menaruh harapan besar. Hasil imbang pun sudah bisa membawa trofi ke Ibu Pertiwi. 

Bertandang ke Bangkok, keyakinan tinggi diusung tim besutan Alfred Riedl. Namun, Dewi Fortuna memang tidak berpihak kepada tim Garuda. Bertanding di Stadion Rajamangala, Bangkok, Indonesia takluk 0-2 dari tuan rumah.

Siroch Chatthong menjadi momok menakutkan bagi Boaz Solossa dan kolega di Bangkok. 

Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: