Pantau Flash
Menko Marinves Klaim Bank Dunia Puji Ketangguhan Ekonomi Indonesia
Seluruh Kecamatan di Kota Medan Masuk Zona Merah COVID-19
PSBB Bodebek Kembali Diperpanjang hingga 2 Juli 2020
Nihil Kasus Baru di 6 Provinsi, Positif COVID-19 di Indonesia 29.521 Kasus
PSBB di Kota Bekasi Diperpanjang hingga 2 Juli 2020

5 Kisah Memalukan Sepakbola Indonesia, Pernah Dibantai 10-0

5 Kisah Memalukan Sepakbola Indonesia, Pernah Dibantai 10-0 Pemain Timnas Indonesia, Evan dan Boaz. (Foto: Istimewa)

Pantau.com - Di balik gemerlapnya dunia sepakbola Indonesia, ternyata memiliki kisah memalukan. Sering kalah, tawuran dan minim prestasi menjadi salah satu potret di cabang olahraga yang paling diminati masyarakat itu.

Perlu diingat, masa kelam itu terjadi ketika muncul dualisme liga yaitu, liga Indonesia Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL). Akibatnya, Timnas Indonesia sempat terpecah, tim versi PSSI dan KPSI. 

Dampaknya, peringkat sepakbola Indonesia versi FIFA terus merosot. Dalam ranking terbarunya, Indonesia menempati urutan ke-175 dari 209 negara anggota FIFA. Ini adalah peringkat terburuk Indonesia sepanjang 2017 dan sepanjang sejarah sepakbola di negeri ini.

Kisah memalukan tak harus terus diratapi, tapi dijadikan pelajaran untuk lebih baik ke depan. Pantau.com merangkum, 5 kejadian paling memilukan di jagad sepakbola Indonesia.

1. Kalah 0-10 dari Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia

Indonesia dibantai Bahrain. (Foto: Istimewa)

Indonesia menelan kekalahan sangat memalukan saat berhadapan dengan Bahrain pada laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia. Bermain di Bahrain National Stadium, Skuad Merah Putih dibantai 10 gol tanpa balas.

Hasil laga tersebut kemudian diselidiki FIFA karena dugaan pengaturan pertandingan. Sebelum laga dimulai Indonesia sudah dipastikan tersingkir, sementara Bahrain butuh kemenangan dengan sembilan gol untuk bisa lolos dan pada laga lain Qatar kalah saat berhadapan dengan Iran, meski pada akhirnya Bahrain gagal lolos karena di pertandingan lain Qatar berimbang 2-2 dengan Iran.

Indonesia dicurigai terlibat pengaturan skor karena menurunkan tim lemah dalam laga tersebut. Dari starting XI, tercatat ada delapan orang yang melakukan debut. Sementara mereka yang sudah punya caps hanya Syamsidar, Irfan Bachdim, dan Ferdinand Sinaga. 

Indonesia bermain dengan 10 orang sejak menit ketiga setelah kiper Samsidar dikartu merah. ‘Fifa security launches investigation into Bahrain’s ‘unusual’ 10-0 victory over Indonesia’ tulis Telegraph pada 2 Maret 2012.

Baca juga: 5 Momen Memalukan dalam Sepakbola Profesional, Ada Bek Terbaik Serie A

2. Sepakbola Gajah Indonesia di Piala Tiger 1998

Gol bunuh diri Mursyid Efendi. (Foto: Youtube)

Kisah buruk ini terjadi di ajang Piala Tiger 1998 di Ho Chi Minh City, Vietnam. Adalah Mursyid Effendi sebagai aktor utamanya. Ia dengan sengaja melakukan gol bunuh diri saat timnas Indonesia menghadapi Thailand.

Saat itu kedua tim sama-sama tak mau menang, karena ingin menghindari tuan rumah Vietnam di laga semifinal. Kedua tim sama-sama ingin bertemu dengan Singapura yang dianggap mudah dikalahkan. 

Pertandingan Indonesia versus Thailand ini mencoreng nilai sportifitas. Ketika itu pertandingan imbang 2-2 hingga menit ke-90, akhirnya bek Mursyid Effendi dengan sadar dan sengaja membobol gawang Indonesia yang kala itu dikawal Kurnia Sandy saat injury time. 

Ironisnya, Bima Sakti dan kolega terlihat melakukan selebrasi. Skor 3-2 bertahan hingga pertandingan berakhir. Thailand pun menjadi juara grup dan kemudian kalah dari Vietnam di babak semifinal.

Laga ini dikenal dengan tragedi ‘Sepak Bola Gajah’. Istilah sudah jatuh tertimpa tangga tepat diarahkan ke PSSI dan Mursyid Effendi. Sebab, selain gagal mendapatkan gelar juara, PSSI harus membayar denda sekitar USD 40 ribu kepada FIFA. 

Korban sepakbola Gajah Indonesia, Mursyid Effendi mendapatkan hukuman paling menyakitkan. Dirinya tidak boleh aktif dalam dunia persepakbolaan di kancah internasional seumur hidup. Atas insiden ini, Ketua Umum PSSI Azwar Anas merasa sangat malu melihat permainan sepakbola Gajah yang akhirnya mengundurkan diri.

3. Pembantaian Persibo di AFC Cup 2013

Persibo ketika tampil di AFC Cup. (Foto: Goal.com)

Ini kisah tentang wajah sepakbola Indonesia. Ketika itu, Persibo dipastikan berlaga di Turnamen Piala AFC 2013 usai berhasil menjuarai Piala Indonesia musim 2012. Semakin istimewa lagi, klub asal Jawa Timur itu, seharusnya mengikuti play-off Piala AFC, mendapatkan tiket langsung ke fase grup karena klub-klub dari Australia memutuskan untuk tak ambil bagian.

Dari undian babak grup, diputuskan Persibo berada di Grup F bersama dengan Yangon United (Myanmar), Sun Hei (Hong Kong), dan New Radiant (Maladewa). Di atas kertas, seharusnya klub Indonesia bisa bersaing dengan wakil ketiga negara tersebut. 

Sayangnya, Persibo tak punya pengalaman yang kuat karena ini merupakan ajang internasional pertama mereka sejak berdiri pada tahun 1949. Persibo kala itu mengalami masalah administrasi dan kesehatan finansial klub.

Alhasil, Persibo seperti menyerahkan nasibnya di Piala AFC. Baru pertandingan pertama, Persibo sudah takluk dari wakil Myanmar, Yangon United, dengan skor 3-0 di kandang lawan. Di laga kedua, Persibo kembali dicukur habis dengan skor 0-7 dari jawara Maladewa, New Radiant, di Stadion Manahan Solo. Ini adalah kekalahan terbesar wakil Indonesia sejak ambil bagian di Piala AFC pada tahun 2009.

Lanjut di laga berikutnya, Persibo yang datang ke Hong Kong dengan kekuatan super ngepas alias hanya 12 pemain, bermain ogah-ogahan. Bahkan pasukan Gusnul Yakin sempat meminta wasit untuk mengakhiri pertandingan sejak menit ke-65 karena pemain bertumbangan. Hanya ada tujuh pemain yang masih bisa bertarung di lapangan sementara sisanya terkapar.

Tentu saja ini menjadi insiden yang sangat memalukan bagi sepak bola Indonesia. Praktis, Persibo kalah 8-0 dari Sun Hei. Pihak Sun Hei pun kabarnya kecewa dengan Persibo yang dianggap tidak profesional dan tak sportif. Para pemain Persibo disinyalir pura-pura cedera agar bisa berhenti bermain sebelum waktu pertandingan berakhir.

Dua laga selanjutnya menjadi pertandingan ‘formalitas Persibo dengan Piala AFC 2013. Takluk 1-7 dari Yangon United di Stadion Manahan, kalah 6-1 dari New Radiant di Galolhu National Stadium, Maladewa. 

Rangkaian cerita Persibo di Piala AFC membuat sejumlah media internasional di Hong Kong ramai-ramai memberitakan soal amburadulnya klub Indonesia ini. Terkait kasus ini, Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) turun tangan untuk menyelidiki pertandingan tersebut.

Baca juga: 5 Pesepakbola Meninggal Dunia di Usia Muda, Ada yang Belum Dapat Gaji

4. Kematian Diego Mendieta 

Mendieta. (Foto: Solopos)

Persepakbolaan Indonesia mendapatkan pukulan keras ketika ada pemain asing klub Persis Solo, Diego Mendieta, meninggal lantaran tidak memiliki biaya untuk berobat. Kisah pilu itu terjadi tepat 3 Desember 2012. 

Kisah pemain asal Paraguay itu dimulai saat dirinya tidak menerima gaji selama beberapa bulan yang totalnya mencapai USD12.500 (setara Rp154 juta). Akibatnya, hidup Diego pun luntang-lantung tak karuan. Bahkan, untuk biaya berobatnya pun tak sanggup.

Mendieta meninggal dunia pada hari Selasa dini hari tanggal 4 Desember 2012 di Rumah Sakit Dr. Moewardi, Solo, setelah dirawat selama beberapa hari. Ia pertama kali dirawat di RSI Yarsis Solo. 

Mendieta didiagnosis menderita tifus dan dirawat hingga sepekan. Empat hari setelah pulang, ia kembali masuk rumah sakit. Kali ini, dirawat di PKU Muhammadiyah Solo. Setelah lima hari, Ia dirujuk ke Rumah Sakit Moewardi dan dirawat di sana hingga menghembuskan nafas terakhir.

Salah satu yang membuat pengobatan Diego terputus-putus itu adalah karena kurangnya biaya. Sejak sakit hingga meninggal, Diego belum menerima gaji sebagai haknya saat membela Persis Solo. 

Biaya pengobatannya dibantu oleh beberapa teman-temannya. Akibat penunggakan gaji, kematiannya menjadi polemik dan menarik luas perhatian media, baik di Indonesia maupun di negara asalnya Paraguay.

5. Pemain Tinju Wasit

Aksi pemukulan Rumaropen. (Foto: Jawaban.com)

Perbuatan pemain Persiwa Wamena, Pieter Rumaropen begitu tidak terpuji. Rumaropen meninju wasit Muhaimin saat memimpin laga Persiwa versus Pelita Bandung Raya (PBR).

Rumaropen meninju karena tidak puas dengan keputusan wasit yang memberikan PBR penalti pada menit ke-81. Sang pemain lantas meninju hidung Muhaimin hingga berdarah. Akibatnya, sang wasit dilarikan ke Rumah Sakit Halmahera. Wasit pun akhirnya digantikan wasit cadangan, Tabrani.

Akibat sikap tak terpuji itu, Rumaropen diganjar kartu merah. Kartu merah diberikan langsung oleh Tabrani yang baru masuk menggantikan Muhaimin. Kabar kasus pemukulan ini tak hanya mendapat perhatian dari Media di Indonesia, tapi juga media-media di luar negeri. 

Beberapa situs luar negeri, termasuk Guardian dan The Sun, menurunkan berita pemukulan itu plus videonya. Guardian sekali lagi tidak mau ketinggalan memberitakan peristiwa tersebut, dengan menyertakan video dari Youtube mereka menurunkan berita dengan judul ‘Indonesian footballer banned for life after punching referee’.

‘Pieter Rumaropen Gets Life Ban For Hitting Referee’, tulis Huffington Post pada 25 April 2013. ESPN pun mengulas insiden ini, Muhaimin dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan di hidungnya tak kunjung berhenti dan membuat laga sempat dihentikan selama 15 menit.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - RZS

Berita Terkait: