Pantau Flash
Rudal Israel Hantam Kamp Jihadis Islam di Damaskus dan Jalur Gaza
Marquez Makin Kewalahan di Uji Coba Qatar
Ekonomi Negara-negara Terbesar Turut Luluh Lantak Akibat Korona
Kapal 10 Penumpang Tenggelam di Perairan Halmahera, 1 Orang Hilang
Puan Maharani Soal Kepercayaan Publik: Perilaku 1 Anggota DPR Berpengaruh!

All England, Turnamen Tertua yang Sempat Mandek

Headline
All England, Turnamen Tertua yang Sempat Mandek Kompetisi All England yang berlangsung di National Indoor Arena, Birmingham. (Foto: Cloud One)

Pantau.com - All England merupakan salah satu kejuaraan bulu tangkis tingkat dunia yang diadakan setiap setahun sekali, turnamen ini menjadi salah satu dari lima ajang berlevel super series premier pada kalender Federasi Bulu tangkis Dunia (BWF).

Turnamen ini pun mejadi kejuaraan paling bergengsi karena telah diadakan sejak 1899. Itulah mengapa kemenangan di All England merupakan suatu yang istimewa bagi para pebulutangkis elite dunia.

Memang pada awalnya, kejuaraan ini hanya dibuat untuk peserta ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran, sedangkan pertandingan untuk tunggal putra dan tunggal putri baru ada di tahun kedua.

Seperti yang dilansir dari All England Badminton, history turnamen ini berakar dari sebuah kejuaraan pertama di dunia yang digelar di Guildford Drill Hall, Inggris, pada 4 April 1899.

Kejuaraan yang awalnya bernama The Open English Championship itu di tahun 1902 mulai populer dan akhirnya saat itu berubah nama menjadi All England, serta lapangannya diubah dari yang berbentuk mirip jam pasir menjadi persegi panjang yang bertahan sampai sekarang.

Ledakan bom pada perang dunia kedua. (Foto: historyextra)

Sempat Terhenti

Meski begitu, kisah perjalanan All England pun tidak berjalan dengan mudah dan mulus. Hal itu terjadi karena kejuaraan ini sempat terhenti dua kali karena Perang Dunia I pada 1915-1919 dan Perang Dunia II pada 1940-1946. Bahkan selama Perang Dunia itu perhelatan kejuaraan itu benar-benar berhenti total.

Hingga tahun 1977, All England masih menjadi satu-satunya kejuaraan bulu tangkis di dunia. Namun tepat pada tahun tersebut juga federasi badminton yaitu BWF mulai meluncurkan turnamen resmi. Sehingga tidak heran hingga detik ini pebulutangkis dunia selalu menganggap bahwa All England sebagai kejuaraan prestisius dan spesial layaknya Piala Dunia dalam cabang olahraga sepakbola.

Nama besar All England itu pun juga disadari oleh produsen peralatan olahraga, Yonex saat itu, sehinga sejak 1984 Yonex menjadi sponsor eksklusif untuk All England dan bertahan hingga sekarang. Suksesnya sebuah sejarah turnamen dunia tidak lepas dari bagaimana catatan ataupun torehan prestasi dalam kejuaraan tertua tersebut.

George Alan Thomas pemilik gelar terbanyak di All England. (Foto:Tellerreport.com)

Didominasi Tim Tuan Rumah

Para pemain Inggris pun masih mendominasi kejuaraan All England hingga paruh pertama abad ke 20. Namun, setelah semakin banyak negara lain yang ikut berpartisipasi, All England menjadi lebih kompetitif dan tak melulu didominasi pemain-pemain tuan rumah.

Ada banyak negara yang mengikuti kejuaraan ini, namun Inggris masih menempati posisi tertinggi berkat dominasi mereka di awal-awal turnamen, dengan total 189. 5 gelar, setelah itu Denmark dengan 88 gelar, China mengoleksi 82 titel, posisi keempat diikuti Indonesia 46, serta Korea Selatan berada di posisi kelima dengan torehan 35 gelar.

Namun nama George Alan Thomas menjadi pebulutangkis dengan gelar terbanyak dengan mampu meraih total 21 gelar dari berbagai nomor yaitu 4 tunggal putra, 9 ganda putra, 8 ganda campuran, dan ia masih memagang rekor pemain tersukses di All England hingga saat ini.

Posisi kedua ditempati pebulutangkis Irlandia, Frank Devlin, yang mengoleksi 18 titel, dengan rincian tunggal putra 6 gelar, ganda putra 7, dan ganda campuran 5. Posisi ketiga diduduki oleh pemain putri asal Inggris Ethel B. Thomson dengan catatan tunnggal putri 10 gelar, ganda putri 5, serta ganda campuran 2.

Bagaimana dengan prestasi Indonesia di ajang tertua ini? sejak 1959 hingga saat ini Indonesia telah berhasil mengumpulkan 46 gelar dari berbagai nomor diantaranya tunggal putra 15 gelar, tunggal putri 4, dan yang menjadi perolehan terbanyak yaitu ganda putra 20 gelar, ganda putri 2, serta ganda campuran dengan torehan 5 kali. 

Legenda bulu tangkis Indonesia, Rudi Hartono. (Foto: Istimewa)

Sedangkan pebulutangkis dari Indonesia, Rudy Hartono menjadi yang paling sukses di kejuaraan All England, ia yang hanya turun di satu nomor tunggal putra berhasil mendapatkan delapan kemenangan dengan tujuh raihan gelar secara beruntun dan hingga saat ini belum terpatahkan oleh pemain tunggal dunia manapun.

Perhelatan All England saat ini digelar di National Indoor Arena, Birmingham. Namun, sebelum 1994, venue All England sudah berpindah sebanyak tujuh kali.

Data dan Fakta Seputar All England:

Sejarah Lokasi tempat All England

- HQ of the London Scottish Rifles di Buckingham Gate (1899 - 1901)
- Crystal Palace Central Transept (1902)
- London Rifles Brigade's City Headquarters di Bunhill Row (1903 - 1909)
- Horticultural Hall in Vincent Square di belakang the Army and Navy Stores (1910 - 1939)
- Harringay Arena, North London Stadium (1947 - 1949)
- Empress Hall, Earls Court (1950 - 1956)
- Wembley Arena (1957 - 1993)
- National Indoor Arena, Birmingham (1994 - sekarang).

10 Pemain Tersukses dalam Sejarah All England

1. George Alan Thomas (Inggris) : 21 gelar
2. Frank Devlin (Irlandia) : 18 gelar
3. Ethel B. Thomson (Inggris): 17 gelar
4. Judy Devlin (AS) : 17 gelar
5. Finn Kobbero (Denmark): 15 gelar
6. Betty Uber (Inggris) : 13 gelar
7. Tonny Ahm (Denmark) : 11 gelar
8. Erland Kops (Denmark) : 11 gelar   
9. Gillian Gilks (Inggris) : 11 gelar  
10. Gao Ling (China) : 11 gelar

10 Negara Tersukses dalam Sejarah All England berdasarkan Poin

1. Inggris : 189.5
2. Denmark : 88
3. China : 82
4. Indonesia : 46
5. Korea Selatan : 35
6. Malaysia : 36
7. Irlandia : 19.5
8. Amerika Serikat : 18.5
9. Jepang : 15
10. Swedia : 6.5

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Reporter
Willa Wildayanti
Category
Olahraga

Berita Terkait: