Pantau Flash
Arab Saudi Stop Umrah, Hidayat Nur Wahid: Baik Dilakukan untuk Cegah Korona
Lion Air Jemput 13.000 Jamaah Umrah Kembai ke Indonesia
Bank Indonesia Yakin Ekonomi Membaik di Semester II-2020
Lion Air Hentikan Sementara Penerbangan Umrah ke Arab Saudi
3 Induk Cabor Tanda Tangan MoU Dana Pelatnas 2020

BOPI: Klub Liga 1 dan Liga 2 Harus Gunakan PT di Bidang Olahraga

BOPI: Klub Liga 1 dan Liga 2 Harus Gunakan PT di Bidang Olahraga BOPI. (Foto: Pantau.com/Willa Wildayanti)

Pantau.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) BOPI, Sandi Suwardi Hasan mengungkapkan masih banyak klub peserta Liga 1 dan Liga 2 2019 dimana Perseroan Terbatas (PT) yang menaunginya bukan bergerak di bidang jasa olahraga. Oleh karena itu, dia meminta kepada seluruh klub untuk menggantinya.

Sandi mengatakan akan memberikan tenggat waktu selama enam bulan bagi setiap klub untuk mengubah PT tersebut. Harapannya, musim depan setiap klub sudah berada di bawah naungan PT yang bergerak di bidang jasa olahraga.

“Kita sudah sampaikan kepada PSSI dan LIB bahwa (klub) Liga 1 maupun Liga 2 PT-nya yang tidak cocok jenis usahanya harus berubah. Kalau memang klub sepakbola, jenis usahanya ya olahraga, bukan yang lain,” ujar Sandi saat ditemui wartawan. Rabu (19/6/2019).

“Seperti Mitra Kukar itu PT-nya bergerak dibidang konstruksi. Persib yang membeli Blitar United itu bergerak di bidang jasa konsultan. Ini yang kita minta untuk diubah semuanya,” dia menambahkan.

Baca Juga: BOPI Berikan Rekomendasi Penyelenggaraan Liga 1 Musim 2019

Sandi mengungkapkan perbedaan jenis usaha bisa memiliki dampak yang cukup besar. Terutama mengenai pajak yang harus dibayarkan setiap perusahaan. “Ini yang sedang kita godok untuk jasa olahraga sepakbola atau olahraga yang lainnya itu seperti apa. Jadi nanti SIUP-nya (Surat Izin Usaha Perdagangan) yang mengeluarkan dari Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga),” Sandi menjelaskan.

“Sehingga nanti di Liga 1 dan Liga 2 2020 sudah dengan standar yang memang profesional di bidangnya,” ujar dia.

Selain itu, Sandi menambahkan, BOPI juga tengah konsen terhadap permasalahan gaji yang memang kerap menghantui persepakbolaan Indonesia. Tidak hanya soal keterlambatan, kecilnya nominal yang diberikan kepada pemain juga menjadi permasalahan.

“Kita juga akan mengeluaran mekanisme jual beli pemain dengan harga terendah dan tertinggi. Karena sekarang masih ada pemain yang hanya mendapat gaji 2-3 juta perbulan. Jadi BOPI nanti akan membuat standarisasi,” papar Sandi.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Reporter
Reza Saputra
Category
Olahraga

Berita Terkait: