Dahsyatnya Tragedi Kanjuruhan, Perisitiwa Heysel 1985 Kalah Ngeri!

Headline
Tragedi Heysel tahun 1985, kerusuhan suporter LIverpool kontra Juventus di Liga Champions. (Foto: Getty Images)

Pantau – Bagi fans fanatik sepakbola liga Eropa, mungkin tak asing dengan Peristiwa Heysel tahun 1985 yang mempertemukan dua klub top papan atas, yakni Juventus dan Liverpool di Piala Champions.

Juventini, julukan suporter Juventus maupun Liverpudlian, fans berat Liverpool memadati tribun penonton, saling menyemangati klub kesayangannya dari pinggir lapangan hijau.

Peristiwa Heysel 1985 ini terjadi sebelum laga kedua klub dimulai. Saat itu, fans Liverpool menjebol pagar pemisah hingga mengakibatkan para Juventini tertiban. Tak ayal, kedua kelompok saling menyerang, baku hantam, bahkan tak sedikit yang adu jotos di lapangan.

Polisi setempat pun kelimpungan meladeni amukan para suporter kedua klub. Saat kerusuhan sepakbola ini sempat terkendali, kapten Juventus dan Livepool mengajak para fans agar kembali tenang.

Usai kerusuhan mereda, Juventus dan Liverpool kembali bertanding hingga menit berakhir. Kemenangan pun diraih Juventus dengan skor 1-0. Akibat tragedi Heysel, ratusan suporter terluka, 39 orang di antaranya meninggal dunia.

UEFA selaku penyelenggara memberi sanksi keras berupa langgaran bagi seluruh klub sepakbola Inggris mengikuti kompetisi di level Eropa. Sanksi keras ini membuat para suporter berbenah diri.

Rupanya, tragedi bersejarah yang cukup dikenal para pecinta sepakbola di benua biru ini tak sebanding dengan apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim).

Dahsyatnya Tragedi Kanjuruhan melebihi Heysel

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang bermula dari para suporter yang kecewa atas kekalahan Arema FC dari Persebaya dengan skor 2-3.

Aremania, fans fanatik Arema FC lalu turun ke lapangan dan berusaha mencari para pemain untuk melampiaskan kekecewaannya. Namun, polisi melakukan upaya pencegahan dan melakukan pengalihan dengan menembakkan gas air mata.

Akibatnya, sebagian Aremania mengalami kepanikan dan sesak napas. Sebanyak 34 orang meninggal di dalam stadion. Sementara korban lain meninggal di rumah sakit saat proses pertolongan.

Tak hanya dari sisi suporter, ada dua anggota polisi yang turut menjadi korban dalam Tragedi Kanjuruhan, yakni Briptu Fajar Yoyok Pujiono yang merupakan anggota Polsek Dongko-Trenggalek, dan Brigadir Andik Purwanto anggota Polsek Sumbergempol, Tulungagung.

Jika benar gas air mata dipakai untuk membubarkan kerusuhan di stadion, maka itu merupakan pelanggaran terhadap aturan FIFA yang melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion. Tragedi Kanjuruhan juga dikhawatirkan akan membawa sanksi yang memengaruhi keikutsertaan Indonesia di ajang kompetisi internasional tersebut.

Tim Pantau
Editor
Khalied Malvino
Penulis
Khalied Malvino