Pantau Flash
Kemnaker: Ada 1,7 Pekerja Terdampak Pandemi COVID-19
Kemenkes Tegaskan Imunisasi Harus Jalan Selama Pandemi Korona
Jusuf Kalla: Fatwa MUI DKI 2001 Perbolehkan Salat Jumat 2 Gelombang
Gugus Tugas: Skema Herd Immunity Butuh Waktu yang Lama
Pakar Dorong Tes Serologi Massal di Era Normal Baru

PFA Sebut Pemerintah Inggris Demonisasi Pemain di Tengah Pandemi Korona

PFA Sebut Pemerintah Inggris Demonisasi Pemain di Tengah Pandemi Korona Seorang perempuan memakai masker pelindung berjalan di St James Park saat Liga Premier ditunda akibat kasus virus korona. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Serikat pesepak bola Inggris (PFA) menganggap pemerintah Inggris mendemonisasi pesepak bola Liga Inggris di tengah ancaman krisis ekonomi yang ditimbulkan pandemi virus korona atau COVID-19.

Pemerintah Inggris mendesak pesepak bola untuk memotong gaji yang menurut Kepala PFA Gordon Taylor cukup aneh mengingat hal serupa tidak diarahkan terhadap kalangan manajer atau para bankir.

Baca juga:Dengan #Players Together, Inggris Sumbang Dana untuk Perangi Virus Korona

"Saya melihat cukup aneh pemerintah tidak menyadari, ketika seharus mereka tahu bahwa olahraga ini telah menyumbang banyak terhadap ekonomi, dana yang sudah mengalir untuk membiayai inisiatif masyarakat ataupun pajak yang dihasilkan," kata Taylor dalam program Keys & Gray di stasiun beIN SPORTS.

"Mereka cuma menyorot pesepak bola, ketika ada atlet lain, bankir, manajer investasi atau profesi lain yang pendapatnya lebih besar," ujarnya menambahkan.

PFA sebelumnya juga sudah merespon anjuran FA dan Liga Premier terkait rencana pemotongan gaji pemain yang bisa jadi akan mempengaruhi besaran pajak serta pembiayaan lembaga kesehatan seperti NHS.

Tak lama berselang para pemain Liga Inggris telah meluncurkan inisiatif #PlayersTogether untuk menggalang dana bantuan operasional bagi NHS.

Taylor sendiri sudah menyumbangkan 500 ribu poundsterling (sekira Rp9,8 miliar) ke inisiatif tersebut, sedangkan jajaran eksekutif PFA lainnya sudah mengumpulkan 1 juta poundsterling (sekira Rp19,6 triliun).

Baca juga: Mourinho dan Pemain Tottenham Langgar Social Distancing

"Pemain Liga Premier merasa mereka kini dipojokkan, terutama oleh pemerintah," kata Taylor.

"Ironisnya, jika pun mereka memotong gaji, maka pendapatan pemerintah berkurang juga, langkah lain yang kontraproduktif," pungkasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Reza Saputra

Berita Terkait: