Pantau Flash
KKP Tingkatkan Kapasitas Pengawas Deteksi Hasil Pencurian Ikan
Luhut Minta Produsen Farmasi Nasional Percepat Produksi Obat COVID-19
Pemkot Surabaya Sisir Ponpes Antisipasi Penularan COVID-19
15.126 Pasien COVID-19 di Wisma Atlet Sembuh
Ketua Dewan Positif COVID-19, Gedung DPRD Bogor Disterilisasi

21 Bulan Beroperasi, Klinik Ilegal di Paseban Telah Aborsi 903 Janin

21 Bulan Beroperasi, Klinik Ilegal di Paseban Telah Aborsi 903 Janin Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Penyidik Polda Metro Jaya menggerebek sebuah klinik aborsi ilegal yang beralamat di Jalan Paseban Raya No.61, Paseban, Senen, Jakarta Pusat. Klinik itu diketahui telah mengaborsi 903 janin selama 21 bulan beroperasi.

Dalam penggerebekan itu petugas mengamankan tiga orang yakni MM yang berperan sebagai dokter yang melakukan aborsi, RM sebagai bidan, dan S sebagai staf administrasi di klinik ilegal.

Baca juga: Kontroversi RUU Aborsi, Dokter Tegaskan Aborsi Harus Diputuskan Secara Tim

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya mengatakan petugas menemukan daftar berisi nama 1.632 orang yang pernah menjadi pasien di klinik itu.

"Sudah 1632 pasien yang dia tangani, tapi yang dia aborsi sekitar 903 orang lebih," kata Yusri dalam konferensi pers di Jalan Paseban No.61, Jakarta Pusat, Jumat (14/2/2020).

Yusri menambahkan sebagian besar alasan untuk melakukan aborsi adalah pertama hamil di luar nikah, gagal program keluarga berencana (KB), dan tidak boleh hamil karena perjanjian kerja.

Sub Direktorat 3 Sumber Daya Lingkungan (Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya menggerebek membongkar klinik aborsi ilegal ini pada 10 Februari 2020 lalu.

Baca juga: Infografis Kontroversi Pasal Aborsi dalam RUU KUHP

Saat ini polisi masih terus melakukan pendalaman dan pengembangan atas praktek ilegal ini.

Akibat perbuatannya, ketiga tersangka itu kini ditahan di Mapolda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Mereka dijerat dengan pasal berlapis yakni Mereka dijerat Pasal 83 Juncto Pasal 64 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Juncto Pasal 55, 56 KUHP.

Adapun ancaman hukuman akibat tindakan mereka adalah di atas 10 tahun penjara.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia

Berita Terkait: