Pantau Flash
YLKI: Rencana Pembukaan Mal 5 Juni Terlalu Gegabah
Kementan: Asuransi Tani Capai Luasan 333,5 Ribu Hektare
Ada 415 Kasus Baru, Total 23.165 Positif COVID-19 di Indonesia
Sang Adik Positif Korona, Via Vallen: Jangan Kucilkan Mereka
Protokol New Normal di Tempat Kerja: Pekerja Tidak Boleh Terlalu Lelah

Amerika Selatan Jadi Episentrum Baru COVID-19, Brasil Paling Terdampak

Headline
Amerika Selatan Jadi Episentrum Baru COVID-19, Brasil Paling Terdampak Penggali kubur membawa peti jenazah Avelino Fernandes Filho, 74 tahun, saat pemakamannya yang meninggal dunia akibat penyakit virus korona (COVID-19) di Rio de Janeiro, Brazil, Senin (18/5/2020). (Foto: Reuters/Ricardo Moraes via Antara)

Pantau.com - Amerika Selatan telah menjadi episentrum baru pandemi COVID-19 dengan Brasil menjadi wilayah yang paling terpukul. Sementara kasus terus meningkat di beberapa negara Afrika yang sejauh ini memiliki angka kematian relatif rendah.

Menurut pakar kedaruratan utama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr. Mike Ryan, situasi di Amerika Selatan tampak lebih suram. "Dalam arti tertentu, Amerika Selatan telah menjadi pusat baru untuk penyakit ini," kata Dr. Ryan dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat (22/5).

Dilansir Reuters, Sabtu (23/5/2020), Brasil adalah yang paling terpengaruh, dan pihak berwenang di sana telah menyetujui penggunaan luas obat anti-malaria hidroksiklorokuin untuk pengobatan COVID-19, kata dia.

Baca juga: Malaysia Buka Rumah Ibadah Non-Muslim di Zona Hijau COVID-19

Dr. Mike Ryan menegaskan bahwa bukti klinis tidak mendukung penggunaan obat secara luas terhadap penyakit, mengingat risikonya. Sementara itu, pandemi COVID-19 telah mencapai tonggak sejarah di Afrika, dengan lebih dari 100.000 kasus dikonfirmasi.

Dalam sebuah pernyataan, WHO mencatat bahwa virus tersebut telah menyebar ke setiap negara di Afrika sejak kasus pertama dikonfirmasi di benua itu 14 minggu lalu. Tercatat 3.100 kematian dikonfirmasi di Afrika akibat COVID-19.

Menurut direktur regional WHO untuk Afrika Dr. Matshidiso Moeti, saat ini COVID-19 telah tiba di Afrika dan benua itu telah dihindarkan dari tingginya jumlah kematian yang telah menghancurkan wilayah lain di dunia.

Baca juga: Masuk Malaysia Mulai 1 Juni Mendatang Akan Dikenakan Biaya Karantina

"Meskipun begitu, kita tidak boleh dibuai dengan rasa puas diri karena sistem kesehatan kita rapuh dan kurang mampu mengatasi peningkatan kasus yang tiba-tiba," kata dokter yang berasal dari Botswana itu.

Sekitar setengah dari negara-negara Afrika mengalami penularan virus dari masyarakatnya. Jumlah kasus COVID-19 meningkat hingga 50 persen di sembilan negara Afrika dalam sepekan terakhir, sementara kasus di negara lain menurun atau berada pada angka stabil.

Tingkat kematian yang rendah mungkin disebabkan separuh populasi benua tersebut adalah 18 tahun atau lebih muda. Namun, Dr. Mike Ryan mengungkapkan kekhawatiran penyakit ini akan menyebar di benua dengan "kesenjangan yang signifikan" dalam layanan perawatan intensif, oksigen medis, dan ventilator.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: