Pantau Flash
Jumlah Korban Meninggal Akibat Gempa di Turki Berjumlah 35 Orang
Pasien Positif Virus Corona di Malaysia Bertambah Jadi Empat Orang
Kalah dari Wakil Inggris, Hafiz/Glo Jadi Runner-up Thailand Master 2020
Kanada Identifikasi Kasus Pertama Virus Corona
Persib Bandung Perpanjang Kontrak Omid Nazari Satu Musim

Menolak Lupa, Ini 4 Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia

Headline
Menolak Lupa, Ini 4 Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia Ilustrasi Penembakan (Foto: StevePB/Pixabay)

Pantau.com - Pelanggaran HAM merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok individu yang bersifat merusak, merampas, dan melanggar aspek-aspek kemanusiaan.

Di Indonesia, negeri yang dikenal dengan keramahannya, ternyata masih ada kasus pelanggaran HAM yang belum terungkap hingga kini. Kasus itu mengendap begitu saja, seolah menunggu publik lupa.

Berikut 4 kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia: 

1. Genosida 1965

 

(Foto: Istimewa)

Lebih dari setengah abad, kita dikisahkan pembantaian 1965 yang menewaskan sekitar satu juta warga sipil tak bersenjata sebagai perlawanan spontan masyarakat akibat kebengisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Versi militer menyebut, aksi-aksi pembantaian itu sebagai 'Operasi Penumpasan' untuk menghabisi komunis hingga ke akar-akarnya.

Berkas Genosida Indonesia juga menunjukkan sebuah koordinasi tingkat tinggi dan terpusat di balik rangkaian pembunuhan 1965-66 yang bisa ditelusuri rantai komandonya hingga ke Soeharto di Jakarta.

Rentetan peristiwa berdarah mulai berlaku serentak di seantero Aceh sejak 7-13 Oktober. Kelompok-kelompok paramiliter mendapat perintah memusnahkan G30S beserta simpatisannya pada masa itu.


2. Kasus Penembakan Mahasiswa Trisakti (12 Mei 1998)

 

Kekacauan yang terjadi pada 1998 (Foto: Dok Reuters)

Dua puluh tahun lalu, 12 Mei 1998, peristiwa mencekam dan berdarah terjadi di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, saat mahasiswa melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto.

Posisi kampus yang strategis, dekat dengan kompleks gedung DPR/MPR, menjadikan Universitas Trisakti menjadi titik berkumpul mahasiswa dari berbagai kampus. Sekitar pukul 13.00 WIB, peserta aksi mulai keluar kampus dan tumpah ruah di Jalan S Parman. Mereka hendak long march menuju gedung MPR/DPR di Senayan. Barisan depan terdiri dari para mahasiswi yang membagi-bagikan mawar kepada aparat kepolisian yang mengadang ribuan peserta demonstrasi.

Aksi berjalan hingga pukul 17.00 WIB, tanpa ketegangan yang berarti. Saat itu, sebagian peserta aksi juga mulai masuk ke dalam kampus.

Akan tetapi, justru saat 70 persen mahasiswa sudah masuk ke dalam kampus, terdengar letusan senjata dari arah aparat keamanan. Sontak, massa aksi yang panik kemudian berhamburan, lari tunggang langgang ke dalam kampus. Ada juga yang melompati pagar jalan tol demi keselamatan diri.

Penembakan terhadap mahasiswa diketahui tidak hanya berasal dari aparat keamanan yang berada di hadapan peserta demonstrasi. Dalam berbagai dokumentasi televisi, terlihat juga tembakan yang dilakukan dari atas fly over Grogol dan jembatan penyeberangan. Aparat keamanan tidak hanya menembak dengan menggunakan peluru karet. Pihak kampus pun menemukan adanya tembakan yang terarah, dengan menggunakan peluru tajam.

Kejadian ini menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta,Indonesia serta puluhan lainnya luka. Mereka yang tewas adalah Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 - 1998), Hafidin Royan (1976 - 1998), dan Hendriawan Sie (1975 - 1998).

3. Penculikan Aktivis, Wiji Thukul (1998)

 

(Foto : Istimewa)

Hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya, adalah gambaran keadaan 13 aktivis 1997-1998 yang diculik dan belum pulang hingga detik ini. Wiji Thukul adalah salah satunya.

Wiji adalah penyair yang juga pimpinan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker), sebuah organisasi yang bergerak melawan pemerintahan represif Orde Baru melalui jalur kesenian rakyat di Solo, Jawa Tengah.

Pada 22 Juli 1996, Thukul berangkat ke Jakarta menggabungkan Jakker dengan beberapa organisasi lain, Partai Rakyat Demokratik (PRD). Jadilah Thukul sebagai Ketua Divisi Propaganda dan Editor Suluh Pembebasan, suplemen kebudayaan partai.

Thukul yang hilang, adalah suami dari Siti Dyah Sujirah alias Sipon, ayah dari Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Sebelum hilang, Sipon sempat bertemu dengan suaminya saat masa-masa genting penculikan aktivis 1997-1998.

Selang dua tahun setelah pertemuan terakhirnya, Thukul tak kunjung pulang. Sipon pun melaporkan hilang suaminya pada tahun 2000 ke KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).


4. Kasus Marsinah

 

(Foto: Istimewa)

Aktivis sekaligus buruh PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur yakni Marsinah ditemukan tewas mengenaskan di hutan di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Jasadnya ditemukan tepat hari ini 8 Mei 1993 atau 26 tahun silam, usai melakukan aksi demo menuntut kenaikan upah.

Kematian Marsinah hingga kini masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan. Sebelum ditemukan tewas, Marsinah memimpin aksi demonstrasi buruh PT CPS. Mereka menuntut adanya kenaikan gaji dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari sesuai dengan instruksi Gubernur KDH TK I Jawa Timur yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor 50 Tahun 1992.

Pada 3 Mei 1993, sebanyak 150 buruh dari total 200 buruh yang bekerja di pabrik arloji itu melakukan aksi mogok kerja. Marsinah yang saat itu masih berusia 24 tahun berdiri di barisan terdepan menyuarakan hak-hak buruh yang selama ini tak pernah terpenuhi.

Namun, kabar suka cita tersebut berujung pada pemanggilan 10 buruh PT CPS oleh militer. Mereka yang dipanggil merupakan para buruh yang paling lantang bersuara selama unjuk rasa berlangsung. Mengetahui hal itu, Marsinah pun datang mendampingi teman-temannya.

Dalam pertemuan itu dengan perwira Kodim, para buruh diminta untuk mengundurkan diri dengan alasan tenaga mereka sudah tak dibutuhkan lagi oleh perusahaan. Meski berada di bawah ancaman, Marsinah tak gentar.

Dari pertemuan tersebut, para buruh pun membubarkan diri. Buruh lainnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing sementara Marsinah pamit untuk makan.

Tak disangka, ternyata itu adalah pertemuan terakhir para buruh dengan Marsinah. Sejak malam itu, Marsinah menghilang selama 3 hari.

Hingga kini, kasus pembunuhan terhadap Marsinah belum juga dapat terbongkar. Aparat membentuk tim terpadu dan mencokok 8 orang petinggi PT CPS. Penangkapan ini dinilai menyalahi proses hukum lantaran dilakukan tanpa surat penangkapan.

Mereka disiksa untuk mengakui telah melakukan skenario pembunuhan terhadap Marsinah. Pemilik PT CPS Yudi Susanto ikut dibekuk. Setelah 18 hari berlalu, petinggi PT CPS baru diketahui sudah mendekam di Polda Jatim.

Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara sementara staf lainnya mendapatkan vonis beragam mulai dari 4 hingga 12 tahun. Saat proses naik banding di Pengadilan Tinggi Yudi dinyatakan bebas.


Tim Pantau
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Daffa Maududy Fitranaarda
Category
Peristiwa