Polda Metro akan Gelar Perkara Kasus Perkosaan Wanita asal Jakarta oleh WN China

Headline
Ilustrasi perkosaan (Foto: Pixabay)Ilustrasi perkosaan (Foto: Pixabay)

Pantau – Polisi mengusut kasus laporan pemerkosaan yang dilakukan pria warga negara China berinisal K. Polisi menyampaikan bahwa terlapor tidak hadir saat dilakukan dua kali pemanggilan.

“Betul, sudah dua kali dipanggil tidak hadir,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan, Rabu (22/6/2022).

Zulpan menjelaskan bahwa pemerkosaan ini terjadi pada Juni 2020. Kemudian korban memberanikan diri lapor pada April 2022.

Selama dua bulan dilakukan pemeriksaan, terduga pelaku tidak pernah hadir dan tidak memberikan keterangan yang jelas alasannya. Dalam kasus ini kepolisian akan segera melakukan gelar perkara.

“Sesuai prosedur, penyidik akan melakukan gelar perkara untuk menaikkan statusnya ke proses penyidikan,” kata Zulpan.

Saat ini diduga pelaku masih berstatus saksi, namun status tersebut dapat berubah ketika kasusnya naik ke tingkat penyidikan.

“Nanti kalau sudah penyidikan kan berarti ada tersangka. Dia sudah dua kali tidak hadir, maka mekanismenya akan dilakukan gelar perkara untuk menaikkan status penyelidikan menjadi penyidikan,” ucap Zulpan.

Korban pemerkosaan dan tindak kekerasan berinisial L mengaku kenal pelaku K melalui media sosial selama empat bulan. Ia pun mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada Juli 2020.

“Kita melaporkan warga negara asal China yang sedang kerja di perusahaan telekomunikasi. Kasus ini (pemerkosaan dan tindak kekerasan) terjadi mungkin karena korban terlalu percaya pada orang, terlalu menyepelekan sehingga tidak menyangka hal ini akan terjadi,” kata Prabowo Febrianto, pengacara L, di Polda Metro Jaya, Senin (20/6/2022).

Prabowo menceritakan, mulanya korban dan pelaku hendak pergi mencari makan. Namun pelaku berdalih situasi Covid-19 saat itu sedang tinggi sehingga pelaku meminta korban datang ke apartemennya untuk makan.

Tindak kekerasan dan pemerkosaan itu terjadi di apartemen pelaku di daerah Jakarta Barat. Prabowo mengatakan bahwa kliennya menderita luka di area kewanitaan yang meninggalkan trauma.

“Jadi pertama korban diduga mengalami kekerasan atau dipaksa bersetubuh sehingga korban mengalami luka robek di bagian kewanitaan yang menimbulkan trauma. Divisum juga ada beberapa luka fisik,” beber Prabowo.

Atas kejadian tersebut, upaya hukum dilakukan oleh korban melalui Polres Metro Jakarta Barat malah mendapat ancaman dari pihak pelaku.

“Saya sempat menerima pesan teks dari terlapor yang diwakili kuasa hukumnya. Saya diminta menghentikan kasusnya. Pada saat itu belum laporan, baru info ke penyidik ditahap polres. Saya diancam laporkan balik kalau tidak cabut laporan,” kata L.

Tim Pantau
Reporter
Renalya Arinda
Editor
Aries Setiawan