5 Fakta Berbahaya Gas Air Mata. Salah Satunya Berujung Gagal Napas

Headline
Gas air mata. Foto : (holopis)

Pantau – Dalam tragedi Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (1/10/2022), gas air mata ditembakkan oleh kepolisian karena suporter berbuat anarkis.

Awalnya pertandingan berjalan lancar sampai peluit akhir dibunyikan. Namun, pendukung Arema tidak terima dengan kekalahan timnya dan merangsek masuk ke lapangan mengejar pemain dan lainnya. Polisi pun menembakkan gas air mata untuk membubarkan suporter sehingga jatuh banyak korban jiwa akibat terinjak-injak saat berdesakan untuk keluar stadion.

Melansir laman headtopics gas air mata sangat berbahaya bagi saluran pernafasan. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama menjelaskan ada lima fakta berbahaya tentang gas air mata. Apa saja?

1. Beberapa bahan kimia yang digunakan pada gas air mata dapat saja dalam bentuk chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA), dan dibenzoxazepine (CR). Zat kimia ini bisa membuat iritasi dan memicu penyakit jantung.

2. Gas air mata secara umum dapat menimbulkan dampak pada kulit, mata dan paru serta saluran napas.

3. Gejala akutnya di paru dan saluran napas dapat berupa dada terasa berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas. Pada keadaan tertentu dapat terjadi gawat napas (respiratory distress). Mereka yang sudah punya penyakit asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) maka kalau terkena gas air mata maka dapat terjadi serangan sesak napas akut yang bukan tidak mungkin berujung di gagal napas (respiratory failure).

4. Selain di saluran napas maka gejala lain adalah rasa terbakar di mata, mulut dan hidung. Lalu dapat juga berupa pandangan kabur dan kesulitan menelan. Juga dapat terjadi semacam luka bakar kimiawi dan reaksi alergi.

5. Walaupun dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, ternyata pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan. Hal ini terutama kalau paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup.

Tim Pantau
Editor
Annisa Indri Lestari