Pantau Flash
Tim SAR Kerahkan 4 Helikopter ke Paniai Evakuasi Heli PT NUH
Total Kasus Positif di Lingkungan KPK Mencapai 115 Orang
Pesawat Dabi Air Ditembaki di Bandara Bilogai Papua oleh KKB
Belum Bayar Utang ke Negara, Bambang Trihatmodjo Dicegah ke Luar Negeri
Ketua KPU RI Arief Budiman Positif COVID-19

Beda Jauh! Jangan Samakan Orang Kecanduan Gadget dengan Autis

Headline
Beda Jauh! Jangan Samakan Orang Kecanduan Gadget dengan Autis Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Sering sekali banyak orang salah kaprah tentang kategori autis yang disamakan dengan perilaku anak yang fanatik terhadap sesuatu contohnya gadget, anggapan itu jelas keliru.

"Oh itu mah autisnya dibikin, anak SMA SMP dibikin sendiri. Enggak bisa dibilang (autis), karena itu hanya pengaruh IT saja," ujar Enok Fatonah Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) LOB Cipadung, di Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Rabu (3/4/2019).

Perbedaan jelas yang mendasar antara anak pengidap autis dan hanya kecanduan gadget semata terletak pada perilaku sosial dan kemampuannya berkomunikasi untuk menyampaikan keinginannya.

"Kalau yang itu kecanduan gadget masih bisa bersosialisasi dengan yang lain, kitanya bisa berkomunikasi dengan yang lain, terus aktivitas juga masih normal seperti yang lain," tutur Enok.

Baca juga: Dear Gamer... Mobile Legend hingga PUBG 'Goyang' Neraca Pembayaran RI

"Kalau anak-anak yang autis tok itu kan dia nggak ngerti lingkungan seperti apa ketika dia lapar nggak bisa salah satunya dia ngamuk, bagaimana ungkapkan rasa lapar bagaimana nggak ngerti," lanjutnya.

Sementara fenomena anak kecil yang terlampau kecanduan gadget, orang tua atau terdekat patut disalahi karena menurut Enok dasar penelitian anak boleh dikenalkan gadget di umur minimal 12 tahun. 

"Sekarang lihat anak bisa handphone orang tua bangga padahal bahayanya sangat besar sekali, karena dia akan mempengaruhi otak.

Baca juga: Perang Dagang AS-China Berimbas ke Belahan Negara, Kapan WTO Bertindak?

Sedangkan anak autis kategori high function cenderung pintar terhadap salah satu hal seperti membaca menulis, bahkan hingga main game. Jadi salah jika menganggap anak autis tidak bisa berbuat apapun, karena sering terdapat satu sisi kemampuannya unggul di atas orang umum.

"Anak autis pinter, anak autis ada yang dibawah ada yang diatas, itu yang high function autis, segi sosial seperti itu (kekurangan) tapi dia pintar," tutupnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Reporter
Dini Afrianti Efendi

Berita Terkait: