Pantau Flash
Alami Pneumonia Akibat Korona, Musisi jazz Ellis Marsalis Meninggal Dunia
WP KPK Tolak Wacana Pembebasan Napi Koruptor Dampak Pandemi Korona
Penanganan COVID-19 di Jakarta Disebut Lebih Baik dari Jabar dan Banten
PSI pada Jokowi: Mudik Harus Dilarang, Kalau Imbauan Saja Tak Akan Efektif
Update COVID-19 3 April: 1.986 Kasus Positif, 134 Sembuh, 181 Meninggal

Cegah Kanker Payudara dengan Rutin Mengonsumsi Kedelai

Cegah Kanker Payudara dengan Rutin Mengonsumsi Kedelai Susu Kedelai. (Foto: iStock)

Pantau.com - Satu studi baru di AS menunjukkan, perempuan yang mengonsumsi banyak kedele saat kanak-kanak memiliki resiko jauh lebih rendah terserang kanker payudara saat berusia lanjut, demikian laporan Daily Mail.

Studi sebelumnya juga menunjukkan hubungan antara konsumsi kedele dan resiko kanker payudara.

Temuan itu memperlihatkan mengonsumsi lebih banyak kedele memiliki dampak pencegahan kapan saja dalam kehidupan dan menunjukkan lebih lanjut bahwa dampak perlindungan paling kuat mungkin terlihat dengan konsumsi kedele pada masa kanak-kanak.

Baca Juga: Rutin Mengonsumsi Susu Kedelai Ampuh Turunkan Berat Badan

Penelitian tersebut seperti dikutip Xinhuanet-OANA melibatkan hampir 1.600 perempuan Asia-Amerika, 600 di antara mereka menderita kanker payudara dan sisanya sehat.

Perempuan yang rutin mengkonsumsi kedele pada masa kanak-kanak rata-rata sekali satu pekan atau lebih memiliki resiko 58 persen lebih kecil untuk terserang kanker payudara dibandingkan dengan perempuan yang sedikit mengkonsumsi kedele.

Sementara itu, konsumsi kedele secara rutin pada masa dewasa berkaitan dengan penurunan 25 persen resiko kanker payudara.

Baca Juga: Benarkah Mengonsumsi Kacang Kedelai Bisa Merusak Kesehatan?

Namun, para peneliti memperingatkan bahwa meskipun temuan tersebut positif, itu tak cukup untuk menyatakan peningkatan kedele bagi makanan anak. Mereka menyerukan penelitian lebih lanjut.

"Ini adalah studi pertama untuk menilai konsumsi kedele pada masa kanak-kanak dan resiko kanker payudara dan hasil yang satu ini tak cukup bagi pemberian saran kesehatan masyarakat," kata peneliti senior Dr Regina G Ziegler, dari Institut Kanker Nasional AS. "Temuan ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut."

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Kontributor - NPW

Berita Terkait: