Pantau Flash
Pemberlakuan PSBB di Surabaya Raya Diperpanjang hingga 8 Juni 2020
Masyarakat Wajib Tes Deteksi COVID-19 Sebelum bepergian ke Daerah Lain
Total Pasien Sembuh COVID-19 di Indonesia Meningkat Jadi 5.642 Orang
Polda Jabar Lakukan Penyekatan Lalu Lintas Mengarah ke Jakarta
Hingga 25 Mei, Jumlah Pasien Sembuh COVID-19 di RSD Kemayoran 1.936 Orang

Duh! Tanpa Disadari Pelaku Mom Shamming Adalah Orang Terdekat

Duh! Tanpa Disadari Pelaku Mom Shamming Adalah Orang Terdekat Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Psikolog TigaGenerasi Saskhya Aulia Prima, M.Psi mengungkapkan bahwa mom shaming banyak dilakukan oleh orang terdekat.

Baca juga: Teori Medis Wanita Sulit Hamil Saat Berusia di Atas 30 Tahun

Istilah mom shaming, lanjut Saskhya, merujuk pada merendahkan seorang ibu karena pilihan pengasuhannya berbeda dari pilihan-pilihan yang dianut oleh si pengkritik. Perilaku mom shaming berupa sindiran, komentar atau kritik yang bersifat negatif.

Bila merujuk dari data di Amerika, yakni Michigan University, sambungnya, sekitar 500 pengguna digital mengaku bahwa dirinya mengalami mom shaming, mulai dari topik cara pengasuhan anak hingga pemberian susu yang memengaruhi sang ibu dalam memberikan keputusan terhadap anaknya.

Dari hasil data stastistik tersebut, yang tinggi pelaku mom shaming adalah orang tua sendiri. Kedua, suami. Ketiga, adalah mertua, katanya.

Saskhya menambahkan pelaku mom shaming merasa dirinya lebih baik untuk menunjukkan rasa perhatian, namun caranya kurang tepat.

Saskhya menyarankan, ketika seorang ibu merasa menjadi korban mom shaming, sebaiknya jangan lupa break, entah itu bernapas atau minum agar tidak terlalu memikirkan omongan orang. Intinya bagaimana kita tidak baper (bawa perasaan). Ia mengatakan bahwa tidak mudah untuk tidak baper dalam urusan anak. Namun, kuncinya adalah berpikir positif.

Baca juga: Sindrom Inilah yang Sebabkan Perempuan Berisiko Alami Komplikasi Kehamilan

Sebab, dampak dari mom shaming ini adalah rasa percaya diri menjadi drop. Ia akan bingung dalam memberikan keputusan. Bahkan, paling banyak dapat menjadi pencetus dari baby blues, pungkasnya.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Gilang K. Candra Respaty

Berita Terkait: