Foto Kuitansi Bukti Soekarno Utang 400 Kg Emas kepada Pengusaha Aceh, Cek Faktanya

Headline
Beredar foto kuitansi bukti Presiden Soekarno berutang 400 kg emas kepada seorang pengusaha Aceh yang diterbitkan oleh Bank Negara Indonesia tahun 1941. (turnbackhoax.id)Beredar foto kuitansi bukti Presiden Soekarno berutang 400 kg emas kepada seorang pengusaha Aceh yang diterbitkan oleh Bank Negara Indonesia tahun 1941. (turnbackhoax.id)

Pantau – Akun Twitter #Atjeh (@AcehPortrait) mengunggah cuitan berupa foto kuitansi bukti Presiden Soekarno berutang 400 kg emas kepada seorang pengusaha Aceh yang diterbitkan oleh Bank Negara Indonesia tahun 1941.

Cuitan yang diunggah pada 13 Juni 2022 mendapat atensi ribuan like dan retweet.

Narasi:

“BUKTI KWITANSI PRESIDEN INDONESIA SOEKARNO BERHUTANG 400 Kg EMAS PADA SEORANG PENGUSAHA (LEUBE ALI) REMPELAM, RAKIT GAIB, GAYO LUES MELALUI ANGGOTA BPUPKI PADA TAHUN (1941) DI TAKENGON ACEH TENGAH.

Bila orang tua telah tiada, maka hutang duniawi tanggung jwb ahliwaris.”

Penjelasan

Berdasarkan hasil penelusuran, dilansir turnbackhoax.id, Selasa (28/6/2022), serambinews.com pernah menerbitkan berita berjudul “Iwan Gayo Buru 400 Kg Emas yang Dipinjam Soekarno dari Saudagar Aceh, Ini Bukti Cek Dikeluarkan BNI” yang berkaitan dengan cuitan di atas.

Namun, kuitansi diklaim sebagai bukti utang Soekarno tahun 1941 tidak benar.

Pertama, BNI atau Bank Negara Indonesia yang berdiri pada 5 Juli 1946 menjadi bank pertama milik negara yang berfungsi sebagai bank sentral dan bank umum.

Kedua, pada tahun 1941 saat Belanda masih menjajah Indonesia, Indonesia masih bernama “Hindia Belanda” atau Nederlandsch Indie.

Di tahun yang sama, Soekarno juga masih dalam masa pengasingan di Bengkulu sejak tahun 1938 sampai tahun 1942 karena pemikirannya dianggap membahayakan Belanda.

Ketiga, BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan baru dibentuk oleh Jepang pada 29 April 1945 dan diketuai oleh Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat.

Kesimpulan

Dengan demikian, cuitan akun Twitter #Atjeh (@AcehPortrait) dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan.

Tim Pantau
Editor
Aries Setiawan