Ini Cerita Marshanda Saat Dikabarkan Hilang di Amerika

Headline
Marshanda. (Foto: Dok. Instagram @marshanda99)Marshanda. (Foto: Dok. Instagram @marshanda99)

Pantau – Selebriti Marshanda buka cerita ketika dirinya dipaksa masuk rumah sakit jiwa di los Angeles. Ia mengatakan kejadian itu membuat perjalanannya ke Amerika Serikat hancur.

Marshanda menceritakan bahwa ia ingin ‘me time’ ke pantai tanpa membawa gadget. Ia hanya ingin main-main dengan ombak di pantau seperti masa kecilnya dulu.

Namun, sahabatnya yakni Sheila Salsabila yang juga sedang bersamanya di Amerika Serikat ternyata mencari-cari dan tidak bisa menghubungi Marshanda. Sheila menghubungi nomor darurat, lantaran panik.

Sontak Marshanda kaget kelihat ambulans dan 911 sudah menjemputnya usai kembali dari pantai. Saat itu, ia diinterogasi dengan berbagai pernyataan untuk memastikan bahwa dirinya benar baik-baik saja.

“Pertama ambulans, kedua ada 911 yang ujung-ujungnya rumah sakit jiwa, mental health facility. Di ambulans sama 911 mereka tanya ‘are you okay? What’s your name? Sekarang lo di mana? Asal lo dari mana?’ Kaya memastikan gue waras dan sadar diri atau enggak. Disebutin di situ nama gue Adriani Marshanda. ‘Umur lo berapa? Dan pekerjaan lo apa? Lo sampai di LA berapa hari? Lo visitor atau orang tinggal di sini?’ Jawaban gue normal semua,” kata Marshanda dalam channel YouTube-nya seperti yang dilihat Tim Pantau.com, Jumat (5/8/2022).

“Gue bilang, kalau lo worry gue kenapa-kenapa lo lihat aja di iPhone ada fitur emergency atau help id. Lo lihat aja isinya help id gue isinya apa. Terus pada buka, isinya healing my breast tumor. Gue nggak menuliskan ada riwayat bipolar atau depresi. Tapi di bagian medication ada obat-obatan yang isinya kok obat penenang, obat untuk manik, obat depresi, obat untuk orang kayak bipolar. Nah itulah yang buat 911 bawa gue ke mental health facility,” jelasnya.

Ia diinapkan di rumah sakit jiwa yang dia sebut camp mulai 27 Juni sampai 11 Juli 2022. Ia mengatakan bahwa di sana seperti penjara, karena sulit berkomunikasi. Keluarga hanya bisa menghubunginya 2 kali.

“Jadi, semua rencana sampai ada 3 webinar yang di mana gue jadi pembicaranya batal semua. Karena gue ada di rumah sakit jiwa tanpa gue mau,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya 15 hari masuk rumah sakit jiwa secara terpaksa. Ia tidak diperlakukan selayaknya manusia.

“Gue selama di mental health facility, orang di penjara di-treat lebih baik dari pada orang di rumah sakit jiwa. Karena orang di penjara masih dianggap waras, orang di rumah sakit jiwa dianggap nggak waras,” ungkapnya.

“Gue sempet teriak-teriak, gue bilang ‘Gue nolak minum obat ini karena gue mau menggunakan hak asasi manusia gue untuk melawan perintah kalian semua.’ Pas gue ngomong gitu, tangan gue dikebelakangin dan gue dijatuhin ke kasur karena gue dianggap overactive sampai gue disuntik karena gue dianggap agresif,” tuturnya.

Tim Pantau
Editor
Renalya Arinda