Pantau Flash
KPK Ingatkan Penyelewengan Anggaran Terkait Korona Bisa Dihukum Mati
Pangeran Charles Sembuh dari Virus Korona
Mitigasi Dampak COVID-19, BI Dukung Penerbitan Perppu No 1 Tahun 2020
10.597 Warga Jabar Sudah Ikut Rapid Test, 409 Ditemukan Positif COVID-19
Di Tengah Wabah Korona, Menteri Edhy: KKP Akan Berikan Layanan Terbaik

Inilah Perpisahan Paling Menyakitkan Bagi Manusia

Inilah Perpisahan Paling Menyakitkan Bagi Manusia Ilustrasi Perpisahan. (anxiety.org)

Pantau.com - Perpisahan tentu menjadi sesuatu yang sulit, namun pernahkah Kamu bertanya-tanya, diantara sekian banyak rasa sakit akibat perpisahan, manakah yang paling menyakitkan untuk seseorang?

Baru-baru ini peneliti mencoba menemukan rasa sakit mana yang paling mampu mempengaruhi seseorang secara psikologis.

Sebuah studi dari Cornell University yang diterbitkan dalam Buletin Psikologi Kepribadian dan Sosial menunjukkan bahwa, perpisahan yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang ditinggalkan demi orang lain, atau dikenal sebagai penolakan komparatif.

Baca Juga: 5 Negara yang Melegalkan Bisnis Jual Beli Istri

Hasilnya menunjukkan bahwa penolakan komparatif lebih buruk daripada penolakan non komparatif, karena penolakan itu menyebabkan meningkatnya perasaan eksklusi dan penurunan kepemilikan.

Pengamatan lain adalah, ketika seseorang ditolak dan merasa tidak mendapat jawaban mengapa mereka dilepaskan, mereka akan berusaha menemukan penjelasan dengan sungguh-sungguh walaupun hal itu menyebabkan rasa sakit.

Peneliti menganjurkan untuk menerima penolakan apa pun yang diterima karena hal tersebut akan sering terjadi dalam banyak sektor kehidupan.

Baca Juga: 4 Alasan Mengapa Atheis Tidak Percaya Adanya Tuhan

Semua patah hati tentu sangat menyakitkan dan sulit untuk diterima, sekalipun semua orang percaya bahwa waktu tentu saja bisa membantu manusia untuk menyembuhkan hati yang terluka, namun semua hal membutuhkan proses yang panjang untuk menerima semua rasa sakit.

Manusia bukan hanya rentan pada masalah fisik namun juga secara psikologis, tapi berbeda dengan penyakit fisik, rasa sakit secara psikologis lebih kompleks.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - ANU

Berita Terkait: