Intoksikasi, Ternyata Penyebab Bayi 7 Bulan Gagal Ginjal Akut Meninggal

Headline
Ilustrasi keracunan makanan. Foto : (Freepik)
Pantau – Beberapa hari lalu, seorang bayi berusia 7 bulan mengalami gagal ginjal akut dan akhirnya meninggal. Padahal, bayi tersebut hanya konsumsi Air Susu ibu (ASI) dan Makanan Pendamping ASI (MPASI), tidak konsumsi obat-obatan yang tercemar zat kimia Etilen Glikol (EG) dan Dietilon Glikol (DEG).
 
Pengajar Falkultas Kesehatan Masyarakat (FKM UI) dr. Syahrizal Syarif mengatakan penyebab gagal ginjal akut itu ada beberapa macam. Bisa karena infeksi berat, dehidrasi berat, pendarahan berat dan intoksikasi. Masih menurut Shahrizal, pada kasus ini bisa terjadi karena intoksikasi dari makanan.
 
Seperti dikutip dari laman Kemenkes RI, beliau menegaskan, kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap makanan pendamping asi instant sekarang. Karena, masih menurutnya, terdapat intoksikasi. Perlu diketahui, intoksikasi artinya keracunan atau masuknya zat kimia berbahaya yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.
 
Apa itu Intoksikasi?
 
Melansir dari ashefagriyapusaka, intoksikasi sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh keracunan makanan. Hidangan tersebut biasanya sudah terkontaminasi dengan berbagai virus, bakteri, juga parasit lainnya. Untuk itu, dalam memilih makanan dan minuman, harus menelitinya secara baik.
 
Namun, tahukah apa saja kandungan di dalamnya yang bisa memicu terjadinya keracunan makanan itu. Berikut penjelasannya :
 
Salmonella

Penyebab yang pertama adalah karena adanya salmonella. Bakteri ini dapat ditemukan dari telur mentah atau setengah matang. Padahal, soft boiled egg menjadi sangat populer di dunia kuliner. Sensasi nikmat karena lumernya kuning telur ketika dikonsumsi akan memberikan kesan tersendiri.

Ternyata, hal tersebut tidaklah baik untuk dikonsumsi. Karena telur tidak matang secara keseluruhan, sehingga tidak mematikan sebagian bakteri di dalamnya. Salmonella juga bisa ditemukan pada daging unggas bahkan sayur. Untuk gejalanya, dibutuhkan 6–72 jam sampai menimbulkan keluhan.

E. Coli

E. Coli merupakan bateri yang biasa ditemukan pada daging cincang mentah atau produk olahan susu tanpa melalui proses pemanasan. Pasteurisasi atau pemanasan pada produk ini, bertujuan untuk membunuh organisme merugikan, seperti bakteri, jamur, dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui gejalanya, memerlukan waktu 3 – 8 hari dari masa konsumsi. Bakteri tersebut biasanya akan menimbulkan diare bersamaan dengan darah atau air. Ditambah lagi dapat memunculkan kram perut bahkan muntah-muntah pada pengidapnya nanti.  

Campylobacter

Selanjutnya adalah bakteri yang bernama Campylobacter menjadi salah satu penyebab terjadinya intoksikasi. Bakteri ini banyak ditemukan pada produk daging dan susu yang tidak melalui proses pasteurisasi tadi. Pengolahannya juga tidak dilakukan secara benar.

Dengan demikian, bakteri masih bisa berkembang biak lebih banyak di dalam produk. Untuk memunculkan gejalanya, membutuhkan waktu sekitar 2 sampai 5 hari. Biasanya dimunculkan adanya mual, muntah, hingga nyeri kepala yang berangsur cukup lama, sehingga akan mengganggu.  

Listeria

Penyebab berikutnya adalah Listeria. Listeria merupakan bakteri dengan sifat sebagai parasit intraseluler. Sering ditemukan pada makanan siap saji yang didinginkan atau sering dikenal dengan fast food. Adapun contoh makanan tersebut, yakni sosis, keju, dan juga yogurt. 

Untuk memunculkan gejalanya, membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 3 sampai 21 hari. Efeknya berupa demam, nyeri otot, mual, diare, hingga leher kaku, dan linglung. Dalam mencegah hal tersebut, pengolahan makanan harus dilakukan secara baik juga benar.

Clostridium Botulinum

Clostridium Botulinum adalah jenis bakteri yang biasa ditemukan pada makanan kaleng. Makanan tersebut sudah mencapai masa kadaluarsanya, sehingga tidak lagi layak untuk dikonsumsi. Ditambah lagi, tingkat keasamannya menurun dan tidak bisa menahan tumbuhnya bakteri.

Untuk menimbulkan gejalanya tidak membutuhkan waktu lama dan relatif singkat, yakni 12 – 36 jam. Keluhannya berupa lelah, lesu, pandangan kabur, vertigo, hingga kesulitan menelan juga berbicara. Tentu efek tersebut tidaklah baik serta sangat berbahaya bagi mereka yang mengkonsumsinya.

 
Tim Pantau
Editor
Annisa Indri Lestari