Pantau Flash
Pemerintah Berikan Diskon Tarif Pesawat Akibat Serangan Korona
Komisi III DPR RI Desak MenkumHAM Yasonna Laoly Evaluasi Pegawai
Mentan Syahrul Yasin Limpo Dorong Mahasiswa IPB Jadi Petani Modern
Polri: Pemilik Zat Radioaktif Ilegal yang Gemparkan Tangsel Pegawai BATAN
Ada Fenomena CENS dari Laut China Selatan dalam Banjir Jakarta

Lakukan Diet Ekstrem, Bocah Laki-Laki Ini Alami Kebutaan

Lakukan Diet Ekstrem, Bocah Laki-Laki Ini Alami Kebutaan Kentang goreng. (foto: pixabay)

Pantau.com - Seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun di Inggris mengalami kebutaan akibat melakukan diet ekstrim. Dalam Annals of Internal Medicine, sekelompok peneliti dari University of Bristol, Inggris melaporkan remaja laki-laki mengalami kerusakan saraf optik yang serius dan kehilangan penglihatan.

Melansir dari time, bocah itu pertama kali mengeluhkan sakitnya ke dokter ketika dia berusia 14 tahun. Dia kekurangan vitamin B12 tetapi memiliki beberapa masalah kesehatan lainnya, jadi dia hanya menerima suntikan vitamin B12 dan konseling makanan.

Baca juga: Apakah Diet Keto Aman Dilakukan Oleh Anak dan Remaja?

Tahun berikutnya, ia mulai mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan, tetapi dokter tidak dapat menemukan penyebab yang jelas. Setelah dua tahun penglihatan yang memburuk dan akhirnya kebutaan, bocah itu dirujuk ke ahli saraf-mata.

Pada saat itu, dokter menemukan tanda-tanda defisiensi vitamin B12 yang berkelanjutan, serta kekurangan nutrisi lain. Setelah dikonfirmasi kepada bocah itu tentang dietnya, ternyata sejak sekolah dasar, ia tidak mau makan tekstur makanan tertentu. 

Bocah itu mengaku hanya mengonsumsi kentang goreng, Pringles, roti putih, ham, dan sosis.

Baca juga: Berat Badan Naik 6 Kilogram, Sheryl Sheinafia Pilih Olahraga Dibanding Diet

Kasus kebutaan akibat diet jarang terjadi, apalagi pada pasien muda yang sehat dan tinggal di negara kaya. Para penulis beranggapan bahwa diet bocah itu sangat ekstrim menyebabkan kekurangan vitamin B. “Masalah dengan kasus ini adalah bahwa pola makannya yang buruk terus berlanjut selama beberapa tahun, ”kata rekan penulis studi kasus Dr. Denize Atan, seorang ahli saraf mata yang merawat pasien di Rumah Sakit Mata Bristol. 

"Dia melakukan diet yang buruk, dari usia 10 hingga 11 tetapi mulai terjadi gejala usia 14. Perlu waktu selama ini untuk menguras persediaan vitamin dalam tubuh," lanjutnya.

Akibatnya, penglihatan anak laki-laki itu tidak kembali, bahkan dengan suplemen gizi.

Tim Pantau
Editor
Kontributor - RYN
Penulis
Lilis Varwati
Category
Ragam

Berita Terkait: