Pantau Flash
Kemendikbud Terbitkan Kepmen 719/P/2020 Tentang Kurikulum Darurat
Dishub DKI Sebut Ganjil Genap Bisa Berlaku Seharian Tanpa Skema Waktu
Pemerintah Izinkan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning dan Hijau COVID-19
Waketum PPP Reni Marlinawati Meninggal Dunia
Kasus Positif COVID-19 per 7 Agustus Melonjak 2.473 dengan Total 121.226

Pemberontakan yang Terjadi Pasca Kemerdekaan Indonesia

Pemberontakan yang Terjadi Pasca Kemerdekaan Indonesia ilustrasi (foto: pixabay)

Pantau.com - Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaannya tiga hari pasca Jepang mengaku kalah dalam perang dunia ke-2 tahun 1945. Jepang yang ketika itu merupakan negara penjajah Indonesia tak lagi berkuasa atas Nusantara. 

Tak lagi dijajah bangsa asing, justru Indonesia mengalami pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Pemberontakan itu nyaris membuat kesatuan Indonesia terpecah. Hingga akhirnya bisa dihentikan dan Nusantara tetap dengan NKRI. 

Baca juga: 5 Negara yang Melegalkan Bisnis Jual Beli Istri

1. Pemberontakan pendirian Negara Islam Indonesia (NII) 

Gerakan ini dimulai pada 7 Agustus 1949 oleh sekelompok milisi Muslim dan dikoordinasikan oleh seorang politisi Muslim Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tujuannya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. 

Kelompok ini mengakui syariat islam sebagai sumber hukum yang valid. Gerakan ini telah menghasilkan pecahan maupun cabang yang terbentang dari Jemaah Islamiyah ke kelompok agama non-kekerasan. Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syariat Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir".

Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dinyatakan sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.

2. Pemberontakan Andi Azis 

Andi Azis merupakan seorang mantan perwira KNIL, yang berusaha untuk mempertahankan keberadaan Negara Indonesia Timur dan enggan kembali ke NKRI. Ia menggerakkan pasukannya dari para mantan perwira KL/KNIL lainnya untuk menyerang markas APRIS dan menyandera sejumlah perwira APRIS, termasuk Letkol A. Y. Mokoginta. Setelah menguasai Makassar, beliau menyatakan bahwa Negara Indonesia Timur harus dipertahankan. 

Pada tanggal 8 April 1950, pemerintah membuat ultimatum yang meminta Andi Azis agar segera datang ke Jakarta. Karena, apabila beliau tidak mengindahkan ultimatum tersebut, maka Kapal Angkatan Laut Hang Tuah akan mem-bom kota Makassar. Selain itu, ultimatum pemerintah tersebut juga meminta agar Andi Azis mempertanggungjawabkan perbuatannya dalam waktu 4 x 24 jam, tetapi ultimatum tersebut tetap juga tidak diindahkan. 

Setelah batas waktu terlewati, pemerintah mengirimkan pasukan di bawah Kolonel Alex Kawilarang. Dan akhirnya, pada tanggal 15 April 1950, Andi Azis datang ke Jakartadengan perjanjian dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX bahwa beliau tidak akan ditangkap. Tetapi, ketika Andi Azis datang ke Jakarta, beliau justru langsung ditangkap.

3. Pemberontakan Republik Maluku 

Republik Maluku Selatan atau RMS adalah sebuah republik di Kepulauan Maluku yang diproklamasikan tanggal 25 April 1950. Pulau-pulau terbesarnya adalah Seram, Ambon, dan Buru.[butuh rujukan] RMS di Ambon dikalahkan oleh militer Indonesia pada November 1950, tetapi konflik di Seram masih berlanjut sampai Desember 1963. 

Kekalahan di Ambon berujung pada pengungsian pemerintah RMS ke Seram, kemudian mendirikan pemerintahan dalam pengasingan di Belanda pada tahun 1966. Ketika pemimpin pemberontak Dr. Chris Soumokil ditangkap militer Indonesia dan dieksekusi tahun 1966, presiden dalam pengasingan dilantik di Belanda. Pemerintahan terasing ini masih berdiri dan dipimpin oleh John Wattilete, pengacara berusia 55 tahun, yang dilantik pada April 2010.

Baca juga: Miris, Ini 5 Kota Tempat Si Kaya dan Si Miskin Hidup Berdampingan

4. Pemberontakan PRRI/Permesta

Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatra Barat, Indonesia.

Ultimatum tersebut bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, tetapi lebih merupakan protes mengenai bagaimana konstitusi dijalankan. Bagaimanapun, pertentangan ini dianggap sebagai sebuah pemberontakan[1] oleh pemerintah pusat, yang menganggap ultimatum itu merupakan proklamasi pemerintahan tandingan, dan kemudian ditumpas dengan pengerahan kekuatan militer terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah militer Indonesia. Semua tokoh PRRI adalah para pejuang kemerdekaan, pendiri dan pembela NKRI. 

5. Pemberontakan G 30 S/ PKI

Mungkin ini salah satu pemberontakan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Di mana ketika itu tujuh orang perwira tinggi militer Indonesia beserta sejumlah orang lain menjadi korban jiwa dalam upaya kudeta Pemerintahan. 


Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati

Berita Terkait: