Pantau Flash
31 Gempa Susulan Guncang Semarang hingga Minggu Siang
Buka Festival Sriwijaya XXIX, Sandiaga Uno Harapkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumsel Segera Bangkit
Panglima TNI Bilang TNI dan Polri Adalah Ujung Tombak Penanggulangan COVID-19
YLKI Sebut Aturan Wajib PCR Penumpang Pesawat Diskriminatif, Minta Jangan Ada Aura Bisnis dan Pihak yang Diuntungkan
Kasus Covid-19 di Indonesia Bertambah 802 Orang, Jateng Jadi Penyumbang Terbanyak

Penelitian Ungkap Handuk Mandi Mengandung Bakteri E-Coli

Penelitian Ungkap Handuk Mandi Mengandung Bakteri E-Coli Handuk. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Handuk menjadi salah satu benda yang paling sering digunakan sehari-hari. Tapi tahu kah kamu, kalau handuk juga menyimpan banyak bakteri dan kuman di dalamnya. 

Setelah cuci tangan kita terbiasa mengeringkan tangan dengan handuk kan. Cara itu ternyata dinilai hanya memindahkan bakteri dan kuman dari handuk ke tangan. Apalagi kalau kamu juga mengeringkan wajah dengan handuk yang sama. 

"Setelah sekitar dua hari, jika Anda mengeringkan wajah menggunakan handuk tangan, maka kemungkinan akan lebih banyak bakteri E. coli di wajah Anda dibanding bakteri yang ada di toilet," kata ahli mikrobiologi di University of Arizona Charles Gerba, dilansir dari Time, Jumat (30/8/2019).

Baca juga: Bisakah Redakan Gatal dengan Meletakkan Handuk Panas?

Herba pernah melakukan studi terhadap kandungan bakteri yang ada pada handuk. Hasilnya, 90 persen handuk kamar mandi penuh dengan koliform dan sekitar 14 persennya merupakan E. coli.

Karenanya Gerba menyarankan agar sebaiknya handuk dicuci setiap dua hari sekali. Tapi, mencuci handuk tak bisa sembarangan.

Lantaran bakteri masih dapat bertahan dengan detergen biasa. Jadi disarankan gunakan air panas dan produk pemutih untuk membersihkan handuk.

Namun setelah dicuci, jangan jemur handuk dalam rumah. Karena menjemur handuk atau pun pakaian di dalam ruangan berisiko menimbulkan penyakit.


Dosen senior di bidang Kesehatan Lingkungan di Univeristy of New South Wales (NSW) Dr Nick Osborne mengatakan pakaian basah dalam ruangan bisa memicu pertumbuhan jamur dan tungau debu.


Ia mengatakan, rumah yang berjamur dan lembab dapat memicu asma bagi siapa pun yang sebelumnya tak mengidap penyakit tersebut.


"Mereka menemukan bahwa kelembapan itu sendiri menjadi indikator yang baik atas adanya risiko asma dan gejala pernafasan. Ada penelitian lain yang menunjukkan hirupan spora jamur terkait dengan sensitisasi alergi dan asma," kata dosen University of NSW Dr. Christine Cowie.


Menurutnya, jika rumah tak memiliki ventilasi baik maka kelembapan akan terbentuk dan mengendap di jendela juga dinding. Tungau debu menyukai kelembapan dan akan berkembang biak di rumah yang lembap. Selain itu, bau jamur akan menyeruak jika rumah tak miliki saluran udara yang baik.


Untuk mengurangi kelembaban dalam rumah disarankan agar pakaian basah dijemur di luar ruangan dan memastikan alat pengering pakaian dialirkan ke luar.

Tim Pantau
Sumber Berita
Time.com
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati