Pantau Flash
BEM SI Demo di Depan KPK Usai Ultimatum Tak Digubris Jokowi, Ratusan Personel Disiagakan
Senaf Soll, Pecatan TNI AD yang Jadi Pimpinan KKB Meninggal di RS Bhayangkara Jayapura
Tiba di Polda Metro, Luhut Diperiksa Terkait Laporan Terhadap Haris Azhar
Data per 26 September, 48.526.648 Penduduk Indonesia Sudah Dapat Vaksin Dosis Lengkap
Ngeri, IDI Ungkap Kasus Anak Terinfeksi Covid-19 Tertinggi di Jawa Barat

Sejarah Idul Adha Berawal dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Sejarah Idul Adha Berawal dari Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Kambing Kurban. (Foto: istimewa)

Pantau.com - Umat muslim seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Masyarakat muslim di Indonesia akan merayakan hari raya itu pada 11 Agustus mendatang dan pastinya wajib mengetahui sejarah idul adha bisa terjadi. 

Umat muslim meyakini bahwa sejarah Idul Adha berawal dari kisah perjuangan Nabi Ismail dan ayahnya Nabi Ibrahim. Saat itu, Nabi Ibrahim belum juga memiliki keturunan setelah bertahun-tahun menikah dengan Siti Sarah. Selanjutnya, Sarah kemudian mempersilakan suaminya untuk menikah dengan Siti Hajar, yang merupakan pembantu di keluarga Ibrahim. 

Bagaimana Sejarah Idul Adha Bisa Terjadi?

Dari pernikahan itu kemudian Nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ismail. Ismail menikmati masa kanak-kanaknya dan sangat disayangi Nabi Ibrahim.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Kementan Tingkatkan Pengawasan Hewan Kurban

Namun pada malam 8 Dzulhijah Nabi Ibrahim bermimpi didatangi seseorang yang membawa pesan dari Tuhan, yang berisi perintah untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim meragukan apakah mimpi tersebut merupakan pesan dari Tuhan atau tidak. 

Sepanjang hari itu, Nabi Ibrahim merenung mengenai benar atau tidaknya perintah tersebut. Peristiwa itu juga yang lalu diperingati umat Islam dengan mengerjakan puasa sunah tarwiyah atau hari merenung.

Malam berikutnya, Nabi Ibrahim kembali mendapat mimpi yang sama. Lalu membuatnya yakin bahwa perintah tersebut memang berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu pada 9 Dzulhijah, umat Islam memperingatinya dengan puasa arafah atau hari pengetahuan. Yakni hari ketika Nabi Ibrahim mengetahui pesan yang berisi perintah menyembelih anaknya.

Keesokan harinya atau tepat 10 Dzulhijah, Nabi Ibrahim membawa Ismail untuk dikurbankan. Ismail pun bersedia karena meyakini bahwa perintah itu datang dari Allah SWT. Sebelum penyembelihan dilakukan, Nabi Ibrahim dan Hajar selalu diganggu setan yang ingin menggagalkan rencana tersebut. Mereka kemudian melempari setan yang menggoda dengan batu.

Saat Nabi Ibrahim telah siap untuk menyembelih anaknya, namun parang yang digunakannya tiba-tiba menjadi tidak tajam. Nabi Ismail kemudian meminta tubuhnya ditelungkupkan. Agar ayahnya tak melihat wajahnya saat memotong lehernya. Nabi Ibrahim menuruti permintaan putranya namun tetap tidak berhasil melaksanakan tugasnya. Parang yang digunakan tetap tumpul dan tak mampu sedikit pun menyakiti Nabi Ismail As. 

Baca juga: Jelang Idul Adha, Kambing Tampan Berponi bak Bintang K-Pop Bikin Heboh

Nabi Ibrahim merasa bingung karena gagal melaksanakan tugas yang diembannya, pada saat itu turun wahyu Allah dengan firmannya: Dan kami panggillah dia, Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan besar.

Sebagai ganti nyawa Nabi Ismail yang telah diselamatkan, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya. 

Saat itu lah terungkap bahwa apa yang diperintahkan Allah SWT adalah ujian untuk Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, untuk membuktikan cinta dan ketaatan keduanya terhadap Allah SWT.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Lilis Varwati

Berita Terkait: