Pantau Flash
KPK Tetapkan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin Tersangka
Covid-19 RI 16 Oktober: Kasus Positif Naik 997 dengan Pasien Sembuh 1.525
Buntut Kabur Karantina, Polda Metro Jaya Bakal Periksa Rachel Vennya 21 Oktober
Polda Metro Gerebek Holywings Tebet, Ada Ratusan Orang Masih Berkerumun
Jokowi Ogah Manjakan BUMN Sakit: Terlalu Sering Dapat Proteksi, Maaf Enak Sekali

Tak Selalu Negatif, Ternyata Marah Juga Baik Untuk Kesehatan

Tak Selalu Negatif, Ternyata Marah Juga Baik Untuk Kesehatan Ilustrasi Marah. (Foto: shutterstock)

Pantau.com - Menurut peneliti dari University of Jena di Jerman mengungkapkan bahwa orang yang suka melampiaskan kemarahan dan emosi negatif lain ternyata memiliki hidup sehat lebih lama.

Penelitian tersebut dilakukan oleh dua orang, Marcus Mund dan Kristin Mitte yang dipublikasikan dalam jurnal Health Psychologies, menyatakan jika orang-orang Italia dan Spanyol yang bertemperamen tinggi cenderung hidup setidaknya dua tahun lebih panjang dibandingkan orang Inggris yang suka menahan emosi.

Baca Juga: Arti Ilfil

Bahkan, menurut hasil riset dua peneliti itu, karakter orang Inggris yang suka mengendalikan diri justru bisa menimbulkan gangguan terhadap kesehatan fisik dan mental.

Mereka melakukan penilaian terhadap 6.000 respoden dan menemukan bahwa mereka yang tidak mengekspresikan kekhawatiran denyut jantungnya akan meningkat. 

Kondisi ini menyebabkan tekanan darah naik dan meningkatkan peluang menderita berbagai penyakit, dari jantung koroner hingga kanker dan kerusakan ginjal.

Baca Juga: Bikin Kesal, 5 Zodiak Ini Sering Batalkan Kencan Tiba-tiba

Selama penelitian, Marcus Mund dan Kristin Mitte, juga mengidentifikasi kelompok yang disebut 'repressor' yang berisiko mengalami gangguan itu.

Orang-orang ini dikenal dari cara mereka menyembunyikan ketakutan dan perilaku mempertahankan diri, kata Mund.

Untungnya kondisi ini tidak selalu buruk bagi orang-orang yang berusaha mengendalikan diri. Meski mereka lebih berisiko menderita penyakit tertentu, namun mereka punya kemampuan lebih cepat untuk memulihkan diri dari berbagai kondisi.

"Karena kebutuhan mereka untuk mengendalikan diri, kaum repressor sangat disiplin dan lebih termotivasi untuk beradaptasi dengan pola hidup," ungkap Mund.

Tim Pantau
Editor
Gilang K. Candra Respaty
Penulis
Kontributor - ANU

Berita Terkait: