Pantau Flash
Mahathir Mohamad Mundur Sebagai Perdana Menteri Malaysia
WNI di Diamond Princess: Pak Jokowi, Jangan Biarkan Kami Mati Perlahan
Asap Tebal Selimuti Gedung DPR RI
Melonjak Rp5.000, Harga Emas Antam Cetak Rekor Tertinggi
Bappenas dan Denmark Kolaborasi dalam Pengembangan Ekonomi Sirkular

The Power of Media Sosial... Ini 5 Tagar yang Mengubah Dunia

The Power of Media Sosial... Ini 5 Tagar yang Mengubah Dunia Perempuan melakukan protes sebagai bagian dari gerakan #MeToo pada hari perempuan internasional di Seoul, Korea Selatan. (Reuters/Kim Hong-Ji)

Pantau.com - Sosial media atau media sosial saat ini memegang peranan penting untuk dunia. Dampak positif kemajuan teknologi dalam media sosial membuat banyak orang berani mengungkapkan pendapatnya.

Sejumlah kasus yang terjadi bahkan terungkap lewat sosial media. Beberapa kampanye di sosial media bahkan telah mengubah dunia dalam memandang suatu permasalahan.

Berikut Pantau.com rangkum 5 tagar viral yang mengubah dunia yang dirangkum dari berbagai sumber.

Baca juga: Terseret Gerakan #MeToo, Eks Jaksa Senior Korsel Harus Meringkuk di Penjara

1. #MeToo

Seorang perempuan dengan tagar MeToo tertulis di wajahnya. (Foto: Reuters)

Kampanye tagar ini mendorong para wanita di seluruh dunia untuk memberanikan diri berbicara tentang pelecehan seksual dan meyakinkan mereka yang menjadi korban tak sendiri di dunia ini. Ungkapan #MeToo atau #AkuJuga pertama kali digunakan oleh aktivis sosial Tarana Burke hampir satu dekade lalu.

Hal itu dibuatnya usai dirinya mencoba membangun solidaritas di antara para korban pelecehan dan kemudian mendapat pengakuan dunia ketika aktor Alyssa Milano mentweet "Jika Anda pernah dilecehkan secara seksual atau diserang, tulislah #metoo sebagai balasan untuk tweet ini."

Gerakan #MeToo, yang datang pada saat produser film Hollywood Harvey Weinstein dituduh menyerang beberapa wanita, yang kemudian menjadi kritis dalam mengecam kekerasan terhadap wanita.

2. #HeForShe

Kampanye #HeforShe oleh Emma Watson. (Foto: Wikipedia)

Sebuah gerakan global yang mempromosikan kesetaraan jender, #HeForShe diluncurkan oleh aktor dan Duta Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perempuan, Emma Watson pada tahun 2014. 

Kampanye feminis adalah undangan kepada laki-laki untuk bersatu dalam solidaritas dengan perempuan, dan menghentikan pelecehan seksual dan ketidaksetaraan gender yang kerap terjadi di seluruh dunia.

3. #BlackLivesMatter

Kampanye #BlackLivesMatter. (Foto: AFP)

Black Lives Matter adalah gerakan melawan kekerasan rasial yang meluas terhadap orang Afrika-Amerika, yang sering kali terjadi oleh para pejabat penegak hukum kulit putih.

Tagar ini lahir pada 2013, setelah pembebasan George Zimmerman yang melakukan penembakan fatal terhadap Trayvon Martin, seorang remaja Afrika Amerika, dan memperoleh momentum pada tahun 2014, setelah kematian Michael Brown dan Eric Garner di tangan polisi.

Baca juga: Gerakan #MeToo Masuk dalam Kurikulum Sekolah di Swedia

4. #RefugeesWelcome

Kampanye #RefugeesWelcome. (Foto: Sam Boal)

Sebuah foto tubuh dari Alan Kurdi, seorang pengungsi Suriah berusia tiga tahun yang tenggelam mencoba menyeberangi Laut Mediterania, menjadi viral di seluruh dunia pada 2015.

Tubuh Kurdi terdampar di pantai Turki dan dunia kemudian menyorot krisis pengungsi internasional serta memicu kecaman global. Dengan #RefugeesWelcome, pengguna Twitter mendorong negara-negara untuk membuka perbatasan mereka bagi pengungsi yang mencari perlindungan.

5. #LoveWins

Dua perempuan membawa slogan #LoveWins. (Foto: Reuters)

Tagar #LoveWins di jagat Twitter muncul pada 26 Juli 2015, di mana Mahkamah Agung Amerika Serikat mengetok palu sebagai tanda pelegalan pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian Amerika. 

Sejak saat itu, warna pelangi yang menjadi simbol dari komunitas LGBT, yaitu lesbian, gay, biseksual, dan transgender sempat menghiasi gedung putih hingga menyebar ke dunia maya. Sebagian netizen turut merayakan keputusan tersebut.

Pengguna Twitter mengadopsi #LoveWins untuk merayakan legalisasi pernikahan sesama jenis di AS dan Irlandia pada 2015. Hashtag itu juga digunakan oleh Presiden AS saat itu, Barack Obama.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW
Category
Ragam

Berita Terkait: