Pantau Flash
MAKI Titipkan iPhone 11 ke KPK, Hadiah Sayembara Cari Nurhadi-Harun Masiku
WNI di Kapal Diamond Princess 'Kecewa' Jika Evakuasi Lewat Jalur Laut
Pesan BOPI untuk LIB: Jangan Ada Kericuhan di Liga 1 2020
Jelang Akhir Pekan Rupiah Melemah Rp13.760 per Dolar
Sebastian Vettel: SF1000 Jelas Lebih Meningkat Dibanding Tahun Lalu

Tidur Cukup Mampu Mengurangi Resiko Terkena Demensia

Tidur Cukup Mampu Mengurangi Resiko Terkena Demensia Ilustrasi Tidur. (Foto: soleblu)

Pantau.com - Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology mengatakan, orang yang kurang mendapatkan asupan oksigen dalam darahnya selama tidur akan cenderung memiliki kelainan pada jaringan otaknya yang berhubungan dengan perkembangan demensia.

Para peneliti mengambil kesimpulan jika tidur yang cukup setiap malam dapat melindungi otak dari degenerasi. Sebaliknya, mereka yang kurang tidur memiliki risiko menderita demensia.

Baca Juga: Ini 10 Arti Mimpi Menurut Para Ahli, dari Kesehatan hingga Masalah Hidup

Selain itu, orang-orang kurang memiliki waktu untuk tidur nyenyak atau disebut gelombang tidur lambat memiliki kemungkinan lebih besar kehilangan sel-sel dalam otak dibandingkan mereka yang lebih banyak memiliki waktu untuk tidur nyenyak.

"Hasil penelitian menunjukkan kalau kadar oksigen yang rendah dalam darah dan kurangnya waktu untuk tidur nyenyak dapat berkontribusi pada proses yang menyebabkan penurunan kognitif dan demensia , " kata penulis studi, Rebecca Gelber dari Pacific Health Research and Education Institute di Honolulu, Hawaii.

Baca Juga: Olahraga yang Satu Ini Bisa Bikin Kamu Awet Muda Lho

Ia mengungkapkan, gelombang tidur lambat penting dalam pengolahan memori baru dan mengingat fakta-fakta. Seiring bertambahnya usia, orang-orang cenderung menghabiskan lebih sedikit waktu tidur di gelombang lambat.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, Gelber dan timnya melakukan studi pada 167 orang laki-laki Jepang-Amerika. Para partisipan ini menjalani tes tidur di rumahnya masing-masing saat usia mereka sekitar 84 tahun. Rata-rata setelah enam tahun masa penelitian, mereka meninggal, demikian seperti dilansir Indian Express.

Tim Pantau
Editor
Kontributor - ANU
Penulis
Kontributor - ANU
Category
Ragam

Berita Terkait: