Toyota Tarik Kembali Peluncuran Mobil Listrik karena Khawatir Bannya Longgar

Headline
Toyota (Foto: Pixabay)Logo Toyota (Foto: Pixabay)

Pantau – Perusahaan raksasa otomotif Toyota menarik kembali 2.700 kendaraan listrik pertama yang diproduksi secara massal. Penarikan tersebut dilakukan karena adanya kekhawatiran pihak Toyota terhadap kemungkinan lepasnya roda kendaraan.

“Baut pada roda bZ4X dapat mengendur di titik roda dapat terlepas dari kendaraan setelah penggunaan jarak jauh,” kata seorang juru bicara Toyota kepada wartawan dilansir BBC.

Penarikan tersebut dilakukan kurang dari dua bulan setelah peluncuran. Kemudian hal yang sama juga dilakukan oleh produsen mobil Subaru. Pihaknya melakukan penarikan ke 403 mobil listrik yang dikembangkan bersama Toyota.

Pada hari Jumat (24/6/22) Toyota mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah mengeluarkan penarikan keselamatan untuk 2.700 bZ4X SUV di AS, Eropa, Kanada dan Jepang.

“Jika roda terlepas dari kendaraan saat mengemudi, itu bisa mengakibatkan hilangnya kendali kendaraan, meningkatkan risiko kecelakaan,” kata juru bicara.

“Tidak ada yang boleh mengemudikan kendaraan ini sampai pemulihan dilakukan,” tambahnya.

Terpantau ada beberapa model bZ4X yang belum ditarik. Namun, juru bicara Toyota enggan berkomentar tentang berapa banyak kendaraan yang diproduksi perusahaan.

Toyota mengatakan telah memberi tahu regulator keselamatan Jepang tentang cacat tersebut pada hari Kamis (23/6/2022) dan penyebab masalah itu masih dalam penyelidikan.

Kemudian, Subaru juga mengatakan menarik 403 Solterra, mobil listrik pertama yang dikembangkan bersama dengan Toyota, karena kekhawatiran tentang baut yang longgar.

Toyota dipandang sebagai pendatang baru di pasar kendaraan listrik, dibandingkan dengan produsen saingan seperti Tesla, yang meluncurkan mobil listrik pertamanya 14 tahun lalu.

Meskipun Toyota saat ini bertujuan untuk memproduksi total 9,7 juta kendaraan di seluruh dunia tahun ini, Toyota telah mengisyaratkan bahwa mungkin terpaksa menurunkan jumlah tersebut.

Tim Pantau
Reporter
Renalya Arinda