Pantau Flash
Jokowi Benarkan 4 WNI Positif Korona di Kapal Pesiar Diamond Princess
Ada Gubernur Belum Alihkan Kewenangan Izin Investasi, Bahlil Lapor Presiden
KPK Takut Tangkap DPO Eks Sekretaris MA Nurhadi?
Rapper Pop Smoke Tewas Ditembak di Rumahnya
Lewis Hamilton Tercepat Hari Pertama Uji Coba Barcelona

WHO Sebut Setiap Detik Orang Meninggal Akibat Bunuh Diri

WHO Sebut Setiap Detik Orang Meninggal Akibat Bunuh Diri Ilustrasi bunuh diri. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Bunuh diri disebut menjadi kasus kematian paling tinggi di dunia. Angka kematian akibat bunuh diri bahkan lebih parah dibanding jumlah orang yang terbunuh dalam perang. 


Baca juga: Dokter Jiwa: Lelaki Muda Lebih Rentan Ingin Bunuh Diri Ketimbang Wanita


Hal tersebut dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut per satu detik satu orang melakukan bunuh diri di dunia. Mengutip dari Reuters, total rata-rata 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri tiap tahunnya.


"Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat global. Seluruh usia, jenis kelamin, dan wilayah dunia terpengaruh (dan) setiap kehilangan adalah satu terlalu banyak," kata laporan WHO. 


WHO akan mendesak pembuat film dan televisi agar tayangan kasus bunuh diri bisa ditampilkan lebih baik. Karena menurut WHO, kasus bunuh diri bisa disebabkan faktor 'ikut-ikutan' pada orang yang menyaksikan tayangan bunuh diri di layar kaca.


"Praktek pelaporan media yang tidak benar bisa membuat kasus bunuh diri menjadi di besar-besarkan dan meningkatkan resiko penjiplakan (aksi bunuh diri) di antara orang-orang yang rapuh," jelas laporan itu.


Bunuh diri juga termasuk penyebab utama kedua kematian di kalangan pemuda yang berusia antara 15 dan 29 tahun, setelah kecelakaan di jalan.


Sementara pada kalangan remaja putri yang berusia 15 sampai 19 tahun, bunuh diri adalah pembunuh terbesar kedua setelah kelahiran. Pada remaja lelaki, bunuh diri menempati posisi ketiga di setelah luka di jalan dan kekerasan antar-manusia.


WHO mencatat bahwa dalam beberapa tahun belakangan, angka bunuh diri global telah turun. Antara 2010-2016 angka ini turun 9,8 persen. Namun angka ini cenderung naik di wilayah Amerika, yang naik sampai 6 persen pada 2010-2016.


Laporan tersebut juga menyebut di negara kaya, angka bunuh diri laki-laki lebih tinggi tiga kali dibandingkan perempuan. Sedangkan di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, angka keduanya sama.


Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bunuh diri sebenarnya bisa dicegah.


"Kami menyerukan kepada semua negara agar menggabungkan strategi pencegahan bunuh diri yang terbukti menjadi program pendidikan dan kesehatan nasional," katanya.


WHO mengatakan pembatasan akses ke pestisida adalah salah satu cara paling efektif dalam mengurangi angka bunuh diri dengan cepat.


Baca juga: 10 Hal Tentang Tindakan Bunuh Diri yang Salah Kaprah di Masyarakat


Karena pestisida paling umum digunakan dan biasanya mengakibatkan kematian sebab zat itu sangat beracun, tidak memiliki penangkal, dan sering digunakan di daerah terpencil tempat tak ada bantuan medis yang berada di dekatnya.


WHO menunjuk kepada studi di Sri Lanka, tempat larangan atas pestisida telah membawa kepada penurunan 70 persen angka bunuh diri dan memperkirakan 93.000 nyawa diselamatkan antara 1995 dan 2015.

Tim Pantau
Editor
Lilis Varwati
Penulis
Lilis Varwati
Category
Ragam

Berita Terkait: