Pantau Flash
Bom Mobil Terjang Demonstrasi Anti Pemerintah di Irak, 4 Orang Tewas
Menangi Perang Saudara, Ginting ke Final Hong Kong Open 2019
Hasil Kualifikasi MotoGP Valencia 2019: Quartararo Kalahkan Marquez
Polda Sumut Tetap 18 Tersangka dalam Serangan Bomber di Polrestabes Medan
BPBD Sebut Belum Ada Penetapan Tanggap Darurat Gempa Malut

Ekspor Minyak Sawit Naik 16 Persen, Paling Banyak ke China

Headline
Ekspor Minyak Sawit Naik 16 Persen, Paling Banyak ke China Buah sawit (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Ekspor minyak sawit dan produk turunannya (di luar biodiesel dan oleochemical) hingga Juli 2019 mencapai 17,76 juta ton atau mengalami kenaikan sekitar 16 persen dari Juni.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono di Jakarta, Rabu, mengatakan kenaikan tersebut juga terjadi dalam periode tahunan yakni sebesar 4,7 persen dari 16,97 juta ton pada 2018.

"Kenaikan ekspor terbesar dibukukan oleh China yang mengalami kenaikan 46,7 persen (yoy), disusul negara-negara di Afrika sebesar 20,11 persen (yoy) dan beberapa negara Asia, khususnya Jepang dan Malaysia," kata Joko.

Baca juga: Tak Dipungkiri, Sawit Adalah Pengerak Ekonomi Daerah

Afrika sebagai negara tujuan ekspor baru yang sedang digarap Indonesia menunjukkan kinerja cukup baik, lanjutnya, merupakan keberhasilan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam melakukan promosi ke negara-negara Afrika.

Namun demikian, Gapki mencatat perolehan devisa ekspor produk sawit mengalami penurunan yang mana sampai dengan Juli, mencapai 9,8 miliar dolar AS turun 18 persen dibanding periode yang sama 2018, yaitu sebesar 11,9 miliar dolar AS.

Joko menyatakan penurunan ekspor masih terjadi di India sebesar 19,86 persen (YoY), Amerika Serikat 14,3 persen (YoY), serta Pakistan dan Bangladesh.

Penurunan ekspor ke India masih dikarenakan pengenaan tarif impor yang tinggi sebesar 54 persen untuk produk olahan dan 40 persen untuk produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Namun demikian, menurut dia, India akan menurunkan tarif impor untuk produk olahan sawit Indonesia menjadi 45 persen sehingga sama dengan tarif yang dikenakan kepada produk olahan sawit Malaysia.

"Tentu ini karena negosiasi yang terus menerus dilakukan oleh Kemendag dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kepada Pemerintah India," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Baca juga: Sawit Jadi Pendukung Ketersediaan Energi Nasional, Untuk Apa Saja?

Pasar ekspor masih tumbuh 1,5 persen (yoy) walaupun diwarnai penuh masalah dan berbagai kampanye negatif, selain itu tambahnya, rencana Uni Eropa untuk mengurangi impor sawit mulai 2021.

Terkait sikap Eropa tersebut, Joko menyatakan pemerintah Indonesia terus melakukan lobi disertai ancaman kebijakan balasan beberapa produk impor dari Uni Eropa.

Saat ini Harga CPO di pasar internasional mulai menunjukkan pergerakan naik, Joko Supriyono berharap, tren kenaikan ini terus menunjukkan ke arah yang positif hingga akhir tahun.

"Sehingga sawit tetap mampu berkontribusi positif terhadap neraca perdagangan Indonesia," katanya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: