Pantau Flash
Menpora Malaysia Sanjung Gojek Bantu Ekosistem e-Commerce Negaranya
BNPB: Kualitas Udara di Sumsel, Jambi, dan Riau Sangat Tidak Sehat
F1 Bakal Digelar di Miami pada Musim 2021
OJK: Kehadiran Palapa Ring Bisa Percepat Industri Fintech di Indonesia
Kementan Dorong Kawasan Perbatasan Jadi Lumbung Beras dan Ekspor

Keberadaan e-Commerce Tak Banyak Pengaruhi Bisnis di Mal

Keberadaan e-Commerce Tak Banyak Pengaruhi Bisnis di Mal Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Perdagangan daring melalui internet atau e-commerce dinilai tidak berdampak signifikan kepada kinerja mal karena banyak orang berkunjung ke pusat perbelanjaan sebagai gaya hidup dan bukan konsumtif.

"E-commerce ada pengaruhnya, tetapi tidak signifikan," kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Menurut Ferry, hal itu karena banyak masyarakat urban masih melihat pusat perbelanjaan sebagai sebuah pengalaman atau gaya hidup. Selain sebagai gaya hidup, ujar dia, mal juga sudah banyak yang bertransformasi untuk kegiatan selain ritel.

"Beberapa mal ada yang menggunakan ruang tidak terpakainya untuk coworking space (ruang kerja bersama)," katanya.

Baca juga: Mentan Klaim Teknologi Bantu Wujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045

Dengan demikian, ia menilai bahwa bisnis di mal tidak akan terlalu berpengaruh karena konsumen di kota-kota besar seperti Jakarta dinilai masih kurang tempat hiburan sehingga mal bisa dilihat sebagai lokasi ideal untuk berkumpul bersama keluarga atau hanya sekadar mencari suasana.

Untuk pemilik mal, Ferry merekomendasikan melakukan konfigurasi ulang ruang dengan dinamis dan berani berinovasi, sedangkan para peritel juga diharapkan dapat berinovasi dengan lebih menekankan pengalaman pelanggan.

Selain itu, ujar dia, para peritel juga diharapkan bisa memanfaatkan teknologi termutakhir yang akan mendorong pembelian yang lebih impulsif atau tidak direncanakan sebelumnya, dan menciptakan ceruk pasar dengan cara yang kreatif.

Sebelumnya, berbagai platform e-commerce  yang beroperasi dinilai perlu lebih berinovasi dalam memperhatikan dan mengembangkan kinerja UMKM yang terdapat di berbagai daerah. "UMKM ini berperan penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia," kata Pendiri dan CEO Troli (platform belanja daring) Roni Irawan.

Baca juga: Penjualan Pesawat Boeing Turun Drastis dari Tahun Lalu

Menurut Roni, selama ini upaya pemberdayaan UMKM hanya sebatas teori karena kinerja usaha kecil kerap kalah bersaing dengan berbagai usaha pedagang besar.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia termasuk dari lima besar negara yang memiliki jumlah startup atau usaha rintisan terbanyak dengan sekitar 2.100 startup.

Selain itu, ujar dia, usaha kecil itu ternyata menyumbang hingga 93,4 persen PDB perekonomian Indonesia, sedangkan usaha menengah 5,1 persen dan usaha besar hanya sekitar 1,5 persen.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: