Pantau Flash
BI Prediksi Turis Muslim Akan Capai 158 Juta Orang Tahun Depan
Utang Luar Negeri Indonesia Menjadi 395,6 Miliar Dolar AS
Tol Terpeka Digratiskan Selama Sebulan
Tol Terpeka Diklaim Jadi Jalur Produktif Pulau Sumatera-Jawa
Rupiah Menguat 20 Poin, Kini di Angka Rp14.058-14.120

'Ketindihan' Sering Dikaitkan dengan Hal Mistis, Ini Penjelasan Ilmiahnya

'Ketindihan' Sering Dikaitkan dengan Hal Mistis, Ini Penjelasan Ilmiahnya Ilustrasi (foto: Hallosehat)

Pantau.com - Saat tengah tidur nyenyak namun tiba-tiba sulit bergerak, susah bicara bahkan hingga sesak napas, pernah mengalami hal tersebut? Fenomena itu sering disebut 'ketindihan' saat tidur. 

'Ketindihan' sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Walaupun secara ilmiah kejadian itu bisa disebut juga 'kelumpuhan' tidur atau sleep paralysis.

Secara ilmiah, 'kelumpuhan' tidur merupakan hasil dari disosiasi fase tidur yang bisa terjadi saat akan tertidur atau baru terbangun.

Saat kelumpuhan tidur terjadi, dua aspek tidur REM (Rapid Eye Movement) muncul. Otot-otot tubuh menjadi rileks ke tingkat seperti lumpuh, sementara pikirannya terbangun, meskipun orang tersebut masih bermimpi dan tubuhnya tidak bisa bergerak.

Baca juga: Ini yang Harus Kamu Ketahui Soal Mitos 'Ketindihan'

"Tidur berbaring dengan kondisi seperti lumpuh akan membangunkan sistem kewasdapaan dalam otak yang dapat menimbulkan halusinasi sesosok makhluk sedang duduk di dada," kata Dr Jan Diri Blom seperti dikutip pantau.com dari Livescience pada Kamis (19/9/2019).

Menurut Blom, kejadian itu akan terasa sangat nyata karena merupakan kombinasi dari memori lingkungan nyata dan mimpi buruk seseorang, yang diproyeksikan ke dunia nyata.

Walaupun terdengar sepele dan sangat dimengerti secara ilmiah, rupanya kelumpuhan tidur patut dipandang serius oleh psikiater dan psikolog.

Sebuah hasil analisis yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Psychiatry pada November 2017 menemukan bahwa kelumpuhan tidur lebih sering terjadi dari yang diperkirakan sebelumnya.

Para peneliti mengamati 13 studi tentang fenomena inkubus yang melibatkan 1.800 orang. Penelitian dilakukan dari berbagai negara, termasuk Kanada, Amerika Serikat, China, Jepang, Italia dan Meksiko.

Hasilnya, 1 dari 10 orang, atau sekitar 11 persen dari populasi umum, pernah mengalami 'ketindihan'. 

"Itu berarti ada kemungkinan 11 persen bagi individu tertentu untuk mengalami fenomena 'ketindihan' ini setidaknya sekali selama hidup mereka," kata Blom.

Namun dalam kelompok tertentu, misalnya orang dengan gangguan kejiwaan, para pengungsi dan juga pelajar, kemungkinan 'ketindihan' lebih tinggi dan mencapai 41 persen.

Blom juga menambahkan bahwa orang-orang yang tidur telentang, mengonsumsi alkohol, dan memiliki pola tidur yang beraturan memiliki kemungkinan 'ketindihan' yang lebih tinggi.

Tim Pantau
Editor
Lilis Varwati
Penulis
Lilis Varwati
Category
Ragam