Pantau Flash
JK: Masyarakat Papua Diharapkan Terima Permintaan Maaf Gubernur Khofifah
Imbas Perang Dagang, China Mulai Kurangi Impor Emas Hingga 500 Ton
OTT Yogyakarta: KPK Bawa 5 Orang ke Jakarta untuk Diperiksa
G7 Adakan KTT di Tengah Kepanikan akan Perekonomian Global
Redam Hoax Kerusuhan Papua, Kemkominfo Sempat Perlambat Internet

'The Woven Path: Perempuan Tana Humba': Cerita dari Tanah Sumba

'The Woven Path: Perempuan Tana Humba': Cerita dari Tanah Sumba Jumpa pers film 'The Woven Path: Perempuan Tana Humba'. (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com - LSM Ford Foundation dan Tanakhir Film resmi merilis film pendek dokumentar 'The Woven Path: Perempuan Tana Humba' yang bercerita tentang kehidupan pedalaman Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Film ini mengambil latar dua kampung di Sumba yang menggambarkan perbedaan adat istiadat modern dan daerah yang masih memegang adat istiadat hingga kini, baik dari sisi perkawinan, agama, hingga kebiasaan menenun.

"Kita kejar itu, ada dua kampung adat, Rende sama Prailu. Prailu itu di kota sudah modern. Rende itu masih murni, dia punya batu besar, kompleksnya masih punya keluarga tertentu, lengkap, dan cukup tua," ujar Lasja F Susatyo selaku Sutradara fillm saat konferensi pers di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/2019).

Baca juga: Ari Sihasale Tertarik Buat Film Dokumenter Kota Ambon

Film berdurasi kurang dari 60 menit ini berhasil menyuguhkan tontonan yang menggugah dengan aneka pemandangan menakjubkan Sumba, baik dari laut, pegunungan, padang savana, hingga tradisi menyembelih hewan untuk dikurbankan dalam acara pernikahan.

Menampilkan dua sudut pandang, bagaimana kekurangan dan kelebihan adat istiadat yang dipegang masyarakat Sumba, khususnya terkait hak-hak seorang wanita di lingkungan sosial tempat tinggalnya.

"Memang, saya perlu gambarkan terkait modernitas dan adat, karena itu yang terjadi sama kita. Apalagi sama mereka karena mereka masih menjalani ritual itu dengan hidup, artinya memang jadi bagian mereka sehari-hari. Jadi pertentangannya seperti apa," papar Lasja.

Yang unik dalam film itu, yakni diceritakannya seorang perempuan yang jika ingin diakui oleh keluarga suami harus lebih dulu menjalani adat 'Belis' atau kegiatan mengambil perempuan untuk keluarga, lagi-lagi dengan memberikan sejumlah hewan ternak sebagai gantinya.

Baca juga: Film 'Pariban' Kenalkan Budaya Batak ke Kaum Milenials

"Terkait jumlah pastinya, itu bisa diatasi dengan cara negoisiasi antar keluarga. Saat keluarga lelaki belum memenuhinya, maka keluarga perempuan tidak akan lebih dulu memberikan anaknya," ungkap Lasja.

Lalu, ada pula aturan bahwa sebuah pemakaman yang layak haruslah dilakukan dengan menyembelih beberapa hewan ternak untuk kemudian dibawa ke laut.

Namun sayangnya, film ini tidak akan ditayangkan dan diputar di bioskop Indonesia selain Jakarta pada hari ini. Sebagai gantinya, film tersebut akan langsung dibawa ke Sumba untuk jadi tontonan para pelajar, khususnya di tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Rifeni
Reporter
Dini Afrianti Efendi
Category
Ragam

Berita Terkait: