
Pantau - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan telah menerbitkan delapan seri Surat Berharga Negara (SBN) ritel pada tahun 2025 dengan total nilai mencapai Rp153 triliun.
Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) DJPPR Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menyampaikan bahwa jumlah investor dari delapan seri SBN ritel yang diterbitkan sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar 262 ribu investor.
"Kalau kita lihat dari delapan seri yang diterbitkan sepanjang 2025, total investornya mencapai sekitar 262 ribu investor," ungkapnya.
Literasi Keuangan dan Minat Investasi Meningkat
Novi menambahkan bahwa tren pertumbuhan investor ini menunjukkan peningkatan literasi keuangan masyarakat serta semakin luasnya pengenalan terhadap instrumen obligasi ritel.
Secara statistik, investor SBN ritel didominasi oleh perempuan dengan porsi sebesar 58 persen, sementara investor laki-laki mencakup 42 persen.
Dominasi perempuan ini diperkirakan karena dalam banyak keluarga, pengelolaan keuangan rumah tangga lebih banyak dilakukan oleh perempuan.
Dari sisi psikologis, perempuan juga cenderung memilih instrumen investasi yang stabil dan aman.
"SBN ritel adalah instrumen yang relatif aman dan memberi kepastian, karena bersifat fixed income, kuponnya tetap. Karena itu, terlihat perempuan mendominasi sebesar 58 persen," ia mengungkapkan.
Generasi Milenial dan Pegawai Swasta Mendominasi Profil Investor
Berdasarkan kelompok usia, investor dari generasi milenial dan generasi Z mendominasi sebesar 57 persen.
Sementara itu, generasi X mencakup 29 persen, generasi baby boomers 14 persen, dan generasi tradisional (sebelum tahun 1945) sebanyak 1 persen.
Dari sisi profesi, investor SBN ritel paling banyak berasal dari kalangan pegawai swasta yang mencakup 33 persen.
Wiraswasta berkontribusi sebesar 18 persen, pelajar dan mahasiswa 12 persen, ibu rumah tangga 9 persen, serta profesi lain dan pegawai negeri masing-masing sebesar 9 persen dan 7 persen.
Investor dari kalangan pegawai otoritas/lembaga BUMN/BUMD menyumbang 4 persen, profesional 4 persen, pensiunan 3 persen, dan TNI/Polri sebesar 1 persen.
Sebaran Wilayah Masih Didominasi Indonesia Barat
Berdasarkan persebaran wilayah, mayoritas investor berasal dari Indonesia Barat (selain DKI Jakarta) dengan porsi sebesar 62,1 persen.
Investor dari DKI Jakarta menyumbang 27,7 persen, dari Indonesia Tengah 9,7 persen, dan dari Indonesia Timur hanya sebesar 0,5 persen.
"Ini menunjukkan tantangan sekaligus harapan ke depan. Tantangan artinya kita harus mengembangkan untuk meraih Indonesia bagian tengah dan timur, yang mungkin selama ini secara demografi jumlah investornya relatif terbatas. Artinya, ini tantangan untuk kita memberikan peningkatan literasi, karena potensinya cukup besar di sana," jelas Novi.
- Penulis :
- Arian Mesa







