
Pantau - Analis Ekonomi Politik Kusfiardi menyatakan bahwa Bank Indonesia (BI) perlu segera melakukan mitigasi risiko persepsi pasar atas pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI yang baru.
Meski pasar menunjukkan respons yang relatif stabil dalam jangka sangat pendek, Kusfiardi memperingatkan bahwa potensi munculnya sentimen negatif bisa memicu volatilitas ekonomi dalam jangka menengah.
Ia menegaskan bahwa persepsi menyempitnya jarak institusional antara bank sentral dan kekuasaan eksekutif dapat menimbulkan reaksi pasar dalam bentuk isu-isu yang tidak langsung terlihat sebagai gejolak.
Risiko Persepsi Pasar dan Independensi BI
Menurut Kusfiardi, tekanan ekonomi jangka menengah dapat muncul dalam bentuk depresiasi nilai tukar, kenaikan premi risiko surat utang negara, atau perubahan arus modal asing.
Ia menambahkan bahwa risiko dominasi fiskal terhadap moneter tidak selalu bersifat eksplisit, melainkan bisa tumbuh dari ekspektasi pasar atas sinyal politik dan kedekatan institusional.
"Bahkan ketika independensi BI secara hukum tetap terjaga, melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 dan mekanisme kolektif Rapat Dewan Gubernur (RDG), persepsi negatif yang dibiarkan tumbuh dapat menimbulkan biaya kredibilitas yang mahal," jelasnya.
Kekhawatiran ini makin relevan jika stabilisasi jangka pendek terlalu bergantung pada intervensi agresif di pasar valuta asing, yang bisa menggerus cadangan devisa.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 tercatat berada di kisaran 156 miliar dolar AS.
"Oleh karena itu, pengangkatan ini seharusnya dipahami bukan sebagai penutup polemik, melainkan sebagai awal pengujian kredibilitas institusional Bank Indonesia," tegas Kusfiardi.
Komunikasi Kebijakan dan Penguatan Tata Kelola Jadi Kunci
Kusfiardi menyarankan agar langkah mitigasi dilakukan melalui komunikasi kebijakan yang transparan dan konsisten.
Ia menilai penting bagi Gubernur BI dan Deputi Gubernur yang baru untuk menyampaikan forward guidance yang jelas, berbasis data, serta menegaskan bahwa sinergi fiskal-moneter tidak mengorbankan independensi operasional dan instrumen moneter BI.
Pembuktian awal kredibilitas dapat ditunjukkan melalui sikap kebijakan yang disiplin, respons tegas terhadap risiko inflasi, serta stabilisasi nilai tukar yang terukur.
Selain itu, publikasi rutin indikator kunci seperti inflasi inti dan cadangan devisa menjadi elemen penting dalam 3 hingga 6 bulan pertama.
BI juga diharapkan memperkuat tata kelola dan transparansi kelembagaan melalui peningkatan kualitas notulen RDG, penguatan Chinese walls antara kebijakan fiskal dan moneter, serta keterbukaan terhadap evaluasi eksternal yang independen.
Pemerintah disarankan untuk tidak mendorong narasi "sinkronisasi total" yang berlebihan dan menegaskan secara konsisten bahwa independensi BI merupakan fondasi utama stabilitas makroekonomi.
DPR juga diminta menjalankan fungsi pengawasan berdasarkan indikator kinerja moneter dan stabilitas sistem keuangan, bukan berdasarkan preferensi politik jangka pendek.
Kusfiardi menambahkan bahwa dalam manajemen persepsi, pemantauan aktif terhadap sentimen investor dan narasi media perlu diiringi dengan respons cepat yang berbasis data dan fakta.
Langkah ini bertujuan mencegah rumor berkembang menjadi ketidakpastian yang bisa membahayakan stabilitas ekonomi.
"Dengan aksi kebijakan yang konsisten dan komunikasi yang kredibel, persepsi negatif dapat diredam. Namun tanpa itu, ‘bola liar’ persepsi pasar berpotensi berubah menjadi tekanan nyata bagi stabilitas ekonomi nasional," ujarnya.
Ia menekankan bahwa pengangkatan Deputi Gubernur kali ini membuat BI berada dalam sorotan tajam, bukan karena sosok individu, melainkan konteks institusional dan tantangan global yang menyertainya.
Kusfiardi menutup dengan menekankan pentingnya pengawasan dari publik, media, akademisi, dan pelaku pasar demi menjaga independensi BI sebagai benteng terakhir stabilitas makroekonomi nasional.
- Penulis :
- Aditya Yohan






