
Pantau - Keputusan FTSE Russell untuk menunda review indeks saham Indonesia periode Maret 2026 memberi dampak psikologis terhadap pasar modal domestik, terutama terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, keputusan tersebut meski bersifat teknis, tetap memicu sentimen kehati-hatian.
"Tekanan psikologis dari penundaan review FTSE, meskipun sifatnya teknis, tetap dapat mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap wait and see," ungkapnya.
Proyeksi IHSG dan Respons Pasar
Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan menguji ulang support di level 7.863 — posisi terendah yang sebelumnya menjadi area akumulasi beli.
Apabila level ini bertahan, koreksi dinilai sebagai pullback wajar dalam fase konsolidasi dan bukan merupakan pembalikan tren.
Resistance kuat tercatat di level 8.100, yang juga merupakan area distribusi sebelumnya.
Tanpa adanya katalis kuat dari faktor global maupun kebijakan domestik, peluang IHSG menembus level 8.100 dalam waktu dekat dinilai terbatas.
Penundaan review ini juga membuat tidak ada penambahan atau penghapusan saham dari indeks FTSE untuk Indonesia dalam waktu dekat.
Perubahan lain seperti rights issue, klasifikasi emiten (large cap, mid cap, small cap), dan penyesuaian bobot juga dibekukan hingga pengumuman selanjutnya.
Namun, FTSE tetap memproses perubahan yang bersifat wajib, seperti:
- Saham keluar karena merger, akuisisi, atau delisting.
- Aksi korporasi non-penambahan modal seperti stock split, pembagian dividen, dan lainnya.
Fokus ke Reformasi Free Float dan Review Juni 2026
Hendra menilai fokus investor kini akan bergeser ke arah reformasi pasar modal menjelang review berikutnya oleh FTSE Russell yang dijadwalkan diumumkan pada 22 Mei 2026 untuk periode Juni.
Kebijakan terkait batas minimum free float akan menjadi faktor kunci untuk memulihkan kepercayaan penyedia indeks global.
“Penundaan ini bukan karena menurunnya fundamental pasar Indonesia, tetapi karena ketidakpastian teknis dalam reformasi, termasuk batas free float minimum,” jelasnya.
Dampaknya, aliran dana pasif asing tetap stabil karena tidak terjadi penghapusan saham dari indeks, tetapi potensi inflow tambahan dari saham-saham yang sebelumnya berpeluang masuk indeks ikut tertunda.
Hendra menyarankan strategi defensif dalam jangka pendek:
- Tetap selektif pada saham berfundamental kuat.
- Akumulasi saat terjadi koreksi.
- Disiplin dalam manajemen risiko untuk menghadapi volatilitas berbasis sentimen.
Bukan Terkait Klasifikasi Negara
FTSE menegaskan bahwa keputusan ini tidak memengaruhi status klasifikasi negara Indonesia dalam Equity Country Classification.
Review klasifikasi negara tetap dijadwalkan dan akan diumumkan pada 7 April 2026.
Data Penutupan IHSG Senin, 9 Februari 2026
Meski dibayangi sentimen negatif, IHSG pada penutupan perdagangan Senin (9/2) justru menguat:
- IHSG naik 96,61 poin (+1,22%) ke 8.031,87
- LQ45 naik 5,36 poin (+0,66%) ke 820,94
- Frekuensi transaksi: 2.273.046 kali
- Volume saham: 40,69 miliar lembar
- Nilai transaksi: Rp17,86 triliun
- Saham naik: 433
- Saham turun: 252
- Saham stagnan: 136
Meskipun penguatan terjadi, analis menilai tekanan bisa kembali muncul dalam beberapa hari ke depan karena pelaku pasar bersikap defensif sambil menanti kepastian kebijakan.
- Penulis :
- Aditya Yohan







