Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp16.970 per Dolar AS di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Melemah ke Rp16.970 per Dolar AS di Tengah Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Foto: (Sumber : Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Nilai tukar rupiah ditutup perkasa sebesar 85 basis point atau menguat 0,50 persen menuju level Rp16.864 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa..)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Senin pagi melemah sebesar 12 poin atau sekitar 0,07 persen menjadi Rp16.970 per dolar Amerika Serikat dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.958 per dolar Amerika Serikat.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian yang masih berlangsung terkait konflik di kawasan Timur Tengah.

"Ketidakpastian yang masih berlanjut terkait konflik di Timur Tengah (Asia Barat) turut menekan sentimen risiko di pasar, yang berdampak pada pergerakan rupiah", ungkapnya.

Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut meningkat setelah Gedung Putih menyatakan bahwa skala serangan terhadap Iran telah dinaikkan melebihi perkiraan sebelumnya.

Pentagon juga dilaporkan mengerahkan unit ekspedisi Marinir Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan respons militer.

Kenaikan Harga Minyak Dorong Penguatan Dolar AS

Meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang kemudian turut memperkuat nilai dolar Amerika Serikat.

Pada perdagangan Jumat 13 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat naik sebesar 2,67 persen menjadi 103,14 dolar Amerika Serikat per barel.

Namun penguatan dolar Amerika Serikat sempat tertahan setelah rilis data Produk Domestik Bruto Amerika Serikat untuk kuartal IV tahun 2025.

Data tersebut direvisi turun secara mengejutkan menjadi 0,7 persen quarter on quarter dari estimasi sebelumnya sebesar 1,4 persen quarter on quarter.

Penurunan angka tersebut mencerminkan mulai terlihatnya pelemahan pada kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Investor Bersikap Wait and See

Sementara itu indikator inflasi pilihan bank sentral Amerika Serikat yaitu PCE Price Index tercatat menurun menjadi 2,8 persen year on year pada Januari 2026 dari sebelumnya 2,9 persen year on year.

Di sisi lain Core PCE Price Index meningkat tipis menjadi 3,1 persen year on year dari sebelumnya 3,0 persen year on year.

Josua Pardede memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari itu akan berada pada kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar Amerika Serikat.

Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh belum meredanya ketegangan geopolitik global serta sikap wait and see dari para investor.

Sikap investor tersebut juga dipengaruhi oleh menjelang periode libur panjang di Indonesia yang dimulai pada Rabu 18 Maret 2026.

Penulis :
Aditya Yohan