
Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 23 poin atau 0,13 persen menjadi Rp17.349 per dolar AS pada Kamis pagi seiring sentimen pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Faktor Global dan Kebijakan The Fed
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi sikap hati-hati investor yang melakukan penyesuaian posisi menjelang keputusan bank sentral AS.
Ia mengatakan, "Sentimen kehati-hatian juga tecermin dari tren kenaikan imbal hasil US Treasury dan Surat Berharga Negara (SBN)."
Dalam pertemuan April 2026, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen dengan adanya perbedaan pandangan di antara pejabatnya.
Josua menambahkan, "Pasar menilai pernyataan tersebut lebih hawkish, yang mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury serta penguatan US Dollar Index pada Rabu (29/4/2026)."
Dampak ke Pasar Domestik
Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil SBN di dalam negeri dan meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
Kekhawatiran inflasi juga meningkat seiring tren kenaikan harga minyak di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Josua mengatakan, "Kekhawatiran terhadap inflasi juga meningkat sejalan dengan tren kenaikan harga minyak."
Berdasarkan faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.275 hingga Rp17.400 per dolar AS dalam waktu dekat.
Kebijakan lanjutan The Fed serta perkembangan global akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
- Penulis :
- Aditya Yohan





