
Pantau - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.394 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 4 Mei 2026, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.337 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal terutama konflik di Eropa Timur yang memicu kenaikan harga minyak global.
"Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia," ungkap analis pasar.
Serangan Drone Picu Lonjakan Harga Minyak
Ukraina dilaporkan terus melancarkan serangan menggunakan drone jarak jauh yang menargetkan infrastruktur kilang minyak Rusia.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan telah menembak jatuh 740 drone Ukraina dalam 24 jam terakhir hingga 3 Mei 2026.
"Jadi, Ukraina rupanya lebih banyak lagi mengirim drone-drone secara jarak jauh yang mengakibatkan kondisi di wilayah Rusia, terutama adalah kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan," ujarnya.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut serangan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak global akibat terganggunya pasokan Rusia ke pasar dunia.
Kenaikan harga minyak mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang global, termasuk rupiah.
Sentimen global juga diperburuk oleh ketegangan di Timur Tengah khususnya di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan mengawal kapal asing netral keluar dari Selat Hormuz di tengah meningkatnya risiko konflik.
Di sisi lain, Iran disebut siap menghadapi konflik jangka panjang yang menambah kekhawatiran pasar global.
Kondisi geopolitik ini meningkatkan tekanan inflasi global dan membuka peluang bank sentral menaikkan suku bunga yang semakin memperkuat dolar AS.
Data Domestik Beri Penopang Terbatas
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar 3,32 miliar dolar AS pada Maret 2026.
Nilai ekspor tercatat sebesar 22,53 miliar dolar AS sementara impor sebesar 19,21 miliar dolar AS.
Indonesia juga membukukan surplus perdagangan selama 19 bulan berturut-turut yang memberikan sentimen positif bagi rupiah.
Namun demikian, data S&P Global menunjukkan sektor manufaktur Indonesia mengalami kontraksi dengan indeks PMI turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026.
"Kontraksi ini akan mengindikasikan bahwa akibat dari kenaikan harga minyak membuat impor barang-barang yang cukup mahal, sehingga berdampak terhadap manufaktur," jelasnya.
Secara terpisah, kurs referensi Bank Indonesia melalui JISDOR tercatat menguat ke Rp17.368 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.378 per dolar AS.
- Penulis :
- Arian Mesa





