HOME  ⁄  Ekonomi

Mentan Cabut Izin Distributor Pupuk Usai Terima Laporan Mahasiswa soal Dugaan Pelanggaran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Mentan Cabut Izin Distributor Pupuk Usai Terima Laporan Mahasiswa soal Dugaan Pelanggaran
Foto: (Sumber: Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman didampingi Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memberi keterangan kepada awak media usai diskusi bersama sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia di Jakarta, Rabu (6/5/2026). ANTARA/Harianto.)

Pantau - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencabut izin distribusi pupuk subsidi setelah menerima laporan mahasiswa terkait dugaan pelanggaran distribusi pupuk dan praktik ilegal di sektor pertanian.

Mentan Langsung Respons Laporan Mahasiswa

Amran mengambil langkah cepat saat berdiskusi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta pada Rabu (6/5).

“Dicabut (izinnya) tadi sudah dicabut. Cuma 10 menit dicabut karena (pencabutan izinnya melalui) online. Terima kasih mahasiswa, inilah yang kita harapkan,” kata Amran.

Forum tersebut dihadiri sekitar 118 perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam diskusi itu, mahasiswa melaporkan dugaan peredaran bawang merah ilegal di Sumatera Utara serta kelangkaan pupuk subsidi bagi petani bawang merah di Nusa Tenggara Barat.

Amran langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan menghubungi pihak terkait di daerah.

“Terima kasih mahasiswa. Inilah yang kita harapkan. Kalau ada pelanggaran, laporkan. Tidak boleh ada pembiaran. Kita berantas mafia, kita tindak tegas,” ujar Amran.

Ia juga meminta aparat penegak hukum menindak tegas pelaku peredaran bawang merah ilegal yang dinilai merugikan petani lokal.

“Nah itu ditangkap, masukkan penjara. Kapan negeri ini bisa makmur kalau ada pembiaran? Sama dengan beternak kejahatan di republik ini,” ucapnya.

Mahasiswa Apresiasi Respons Cepat Kementan

Amran menegaskan pemerintah akan menelusuri distribusi pupuk subsidi di NTB untuk memastikan tidak ada penyimpangan di lapangan.

Ia menilai mahasiswa memiliki peran penting sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengawal kebijakan publik di sektor pertanian.

“Kita butuh pengkritik yang konstruktif. Bukan fitnah, tapi kritik berbasis data. Kita buka apa adanya, tidak ada yang ditutup-tutupi,” kata Amran.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memberantas praktik mafia pertanian.

“Ada koruptor, kita penjarakan. Di sektor pertanian sudah 76 tersangka. Ini bukti bahwa kita tidak main-main,” tegasnya.

Koordinator BEM SI Wilayah Sumatera Utara Muzan Mirisan mengapresiasi langkah cepat Mentan dalam merespons laporan mahasiswa.

“Kami berharap setelah kegiatan ini bisa dapat dibasmi mafia-mafia, terutama bawang merah ilegal yang masuk ke daerah Sumatera Utara,” ungkap Muzan.

Mahasiswa asal NTB Muhammad Abdi Maludin juga menyebut respons cepat Mentan menjadi bukti keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa.

“Saya lihat Pak Menteri langsung merespon dan berkoordinasi saat itu juga. Ini yang kami harapkan, agar persoalan di daerah bisa cepat ditangani,” katanya.

Penulis :
Ahmad Yusuf