HOME  ⁄  Ekonomi

Bappenas Sebut Pulau Penyengat Berpotensi Jadi Kawasan Ekonomi Oranye Berbasis Budaya Melayu

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Bappenas Sebut Pulau Penyengat Berpotensi Jadi Kawasan Ekonomi Oranye Berbasis Budaya Melayu
Foto: Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) berpeluang menjadi kawasan pengembangan ekonomi oranye berbasis budaya Melayu. (sumber: ANTARA/Ogen)

Pantau - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebut Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, berpotensi menjadi kawasan pengembangan ekonomi oranye berbasis budaya Melayu karena memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif yang dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas, Uke Mohammad Hussein, mengatakan potensi ekonomi oranye di Pulau Penyengat cukup besar apabila dikelola secara optimal.

"Ekonomi oranye di Pulau Penyengat, cukup bagus jika dikelola dengan baik. Kepri bisa menjadi contoh," kata Uke Mohammad Hussein saat berkunjung ke Tanjungpinang, Jumat.

Potensi Budaya dan Wisata Dinilai Besar

Uke menjelaskan ekonomi oranye merupakan sektor ekonomi yang berbasis pada kreativitas, budaya, seni, dan inovasi yang mampu mengubah kekayaan intelektual menjadi lapangan kerja dan keuntungan ekonomi.

Menurut dia, Kepulauan Riau, khususnya Pulau Penyengat, memiliki kekuatan budaya dan ekonomi kreatif yang masih dapat dikembangkan lebih optimal.

Ia menilai aset sejarah dan budaya Pulau Penyengat saat ini belum sepenuhnya memberikan dampak terhadap penguatan ekonomi wisata kawasan.

Meski demikian, Uke mengapresiasi penataan kawasan budaya bersejarah yang terus dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam beberapa tahun terakhir.

"Alhamdulillah banyak kemajuan. Tinggal dicari ruang-ruang yang masih bisa dikembangkan supaya dampaknya lebih besar lagi," ujarnya.

Uke menyebut Pulau Penyengat telah memiliki narasi budaya dan paket wisata yang cukup baik untuk menarik wisatawan.

"Sudah ada storytelling dan paket-paket wisata, tinggal promosinya harus diperluas lagi," ucapnya.

Bappenas Dorong Penguatan DMO dan Ekonomi Kreatif

Bappenas juga mendorong penguatan Destination Management Organization atau DMO guna mendukung pengelolaan destinasi wisata yang berkelanjutan.

DMO tersebut terdiri dari unsur pemerintah, sektor swasta, dan komunitas masyarakat agar pengelolaan destinasi wisata menjadi lebih kuat dan terintegrasi.

Selain itu, Bappenas berencana melibatkan Direktorat Pembangunan Indonesia Barat dalam pengembangan kawasan Pulau Penyengat berbasis budaya.

"Kita akan berkoordinasi dengan Direktorat Pemajuan Kebudayaan guna mendukung pengembangan kawasan berbasis budaya," kata Uke.

Kepala Bappelitbang Kota Tanjungpinang, Riono, mengatakan pemerintah kota terus memperkuat sektor budaya dan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Riono, Tanjungpinang tidak hanya memiliki wisata budaya Melayu dan religi Islam, tetapi juga destinasi sejarah dan budaya lainnya yang potensial dikembangkan.

"Kita bukan hanya punya Penyengat dan budaya Melayu identik Islam, tetapi juga punya kelenteng berusia lebih dari 300 tahun dan Patung Seribu," ujarnya.

Selain sektor pariwisata, penguatan ekonomi kreatif di Tanjungpinang juga didukung keberadaan UMKM lokal yang terus berkembang.

Berdasarkan data Pemerintah Kota Tanjungpinang, jumlah usaha mikro pada 2025 mencapai 15.003 unit usaha dengan sebagian besar bergerak di sektor kuliner.

Riono mengapresiasi kunjungan Bappenas ke Tanjungpinang yang diharapkan dapat memperkuat pengembangan sektor budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif daerah.

"Mudah-mudahan ini bisa membantu penguatan perekonomian daerah, khususnya melalui sektor budaya dan pariwisata," kata Riono.

Penulis :
Arian Mesa